Acara 'Poresmian' oleh Tua Adat Kampung



Akhirnya, selesai juga acara adat “Poresmian” oleh tua adat kampung. Sampai saat ini pun rumah masih ramai dengan keluargaku. Ramainya sejak jam 4 sore, ramai dengan kesibukan orang mempersiapkan acara adat “poresmian” yang dihadiri sangadi (lurah) Upai.

Acara “poresmian” dimulai jam 08.00 malam. Dari pihak laki – laki diwakili oleh tantenya kakak (Sisa Kama atau Mama Budi) dan Papa Budi yang tinggal di Kotabangun. Kebetulan tantenya nikah dengan orang kotabangon dan otomatis paham dengan bahasa daerah bolaang mongondow sebagai bahasa resmi di acara adat “poresmian”.

Acara adat “Poresmian” bisa diartikan diresmikannya pelamaran pihak laki – laki ke pihak perempuan. Acara ini merupakan adat tua malam pertunangan di daerah bolaang mongondow. Dimana orang tua laki – laki datang meminang ke orang tua perempuan dengan membawa harta atau tali’ (Tompangkoi Adat) sesuai dengan kesepakatan di acara empat mata.

Pihak laki – laki bertolak dari rumahnya Tete Syarif yang jaraknya gak terlalu jauh dari rumahku. Harta atau Tali’ diisi dalam Kabela.

Kabela

E’et anaknya Kak Ayu yang membawa Kabela tersebut dalam arak – arakan dari rumahnya Tete Syarif. Kakak diapit dua orang perempuan yang membawa bunga dan didepannya dikawal tua adat kampong upai dan orang tua pihak laki – laki.

Diacara ini, pihak pemerintah daerah resmi mengumumkan bahwa aku telah dipinang oleh pihak orang tua laki – laki sekaligus menghitung langsung didepan umum Harta atau Tali’ yang meliputi Ukud – ukud (pinonginkondukuan atau menggunting kuku, pinongayugan atau mencukur, pinotoguluan atau keramas rambut dan pinonaidanq atau menyisir rambut) Gu’at, Gama, Tulok untuk 2 orang, kesejahteraan orang tua lembaga adat dan lain – lain (Tompoyok in oaidan).

Undangan yang hadir dalam acara adat "poresmian"

Aku lihat kakak tegang sekali. Kasihan juga…, biar bagaimanapun prosesi ini harus dilewati jika menikah di daerah bolaang mongondow. Lucunya, kakak didandani dengan kain sarung yang disandang di bahunya ala Si Bolan plus pake songkok.. hehehe…

Prosesi adatnya berlangsung hampir 3 jam. Saling balas pantun dalam bahasa daerah bolaang mongondow, disaksikan sangadi (lurah), tua adat kampung, Jiow (ustadz), dan seluruh isi kampung. Selama prosesi adat aku berdiam diri dalam kamar dan hanya menunggu utusan datang untuk menanyakan apakah pihak laki – laki yang datang aku terima dengan senang hati.

Sebenarnya, biar gak ditanya lagi soal diterima atau gak pihak laki – lakinya, aku 100 persen menerima lho…., Namanya juga prosesi adat. Mau tidak mau harus dijalani.

Akhir dari acara ini ditandai dengan ditanda tanganinya berita acara antara kedua belah pihak, pihak keluarga laki - laki maupun keluarga perempuan. Apalagi ya? Bingung mau nulis tentang adat ini.. Hmmmm…. Pokoknya inti dari acara ini adalah malam diresmikannya lamaran pihak laki – laki ke pihak perempuan. Prosesi adatnya panjang dan sangat sakral.

Alhamdulillah acara prosesi adat malam “Poresmian” berjalan lancar hingga jam 11 malam yang diakhiri dengan makan malam bersama seluruh undangan yang hadir. Insya Allah.., tanggal 12 Oktober nanti, niat keluargaku dan keluarga kakak untuk menyatukan kami dalam mahligai rumah tangga tidak ada halangan. Amin ya rabbal alamin…

Next.., bobo dulu yaa..? capek banget soalnya.. Nih numpang pamer foto - foto bersama keluarga sebelum acara dimulai.. hehe...

Foto Bersama Yuni, Istrinya Kak Tito (Baju putih) dan
Pacarnya Papa Diah (Baju biru) plus Pipit dan Salsa

Foto Bersama sepupuku, Mama Acit

3 komentar:

  1. wah selamat yah mbak naya..sudah menjadi ibu syarif...semoga langgeng yah


    saya kapan ???? :)

    BalasHapus
  2. wuiiih,,, di update terus ya kak perjalan pernikahannya

    BalasHapus

Blogger Perempuan