Tampilkan postingan dengan label Pregnant. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pregnant. Tampilkan semua postingan

Alhamdulillah Telah Lahir Putra Kedua Kami


بَارَكَ اللهُ لَكَ فِي الْمَوْهُوْبِ لَكَ ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ

“Semoga Allah memberkahi untukmu anak yang diberikan kepadamu.
Semoga engkau pun bersyukur kepada Sang Pemberi, dan dia
dapat mencapai dewasa, serta engkau dikaruniai kebaikannya.”


Alhamdulillah hirobbil alamin...

Telah lahir dengan selamat Putra kedua kami pada hari Senin, Tanggal 2 April 2018 (15 Rajab 1439 H) di Rumah Sakit Ibu Dan Anak Kasih Fatimah, Kota Kotamobagu, Provinsi Sulawesi Utara pada pukul 07.00 WITA melalui operasi sesar, dengan BB 2,9 Kg, panjang 47 cm.

Semoga Allah memberi berkah kepadamu Anakku, dan semoga Allah memberi berkah atasmu.

Dan aku meminta perlindungan untuknya kepada-Mu dan juga untuk anak keturunannya dari syaitah yang terkutuk. Amin.



Mohon do’anya semoga putra kedua kami tumbuh sehat dan cerdas, diberi kesehatan dan umur panjang. Aminnnn... Dan semoga kami bisa menjadi orang tua yang baik dalam mendidik dan membesarkannya. Insya Allah.

جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا، رَزَقَكَ اللهُ مِثْلَهُ، اَجْزَلَ اللهُ ثَوَابَكَ

Kenangan Masa Kehamilan Kedua di Tri Semester Ketiga

Hi Diary... Aku mau lanjutin cerita kenangan masa kehamilan keduaku ya? Story kali ini kenangan di trimester ketiga, yakni minggu ke-28 sampai dengan minggu 40. Dimana masa waktu untuk bertemu dengan si Cadebay semakin dekat, yang otomatis menguras semua energiku mempersiapkan diri menghadapi persalinan untuk bertemu dengan buah hati setelah penantian selama 9 bulan.



Banyak hal yang aku siapkan dalam menyambut proses persalinan keduaku ini, mulai dari membuat list catatan kebutuhan dalam persiapan persalinan, merencanakan pemindahan faskes, mencari Rumah Sakit tempat persalinan yang nyaman. Intinya harus siap secara fisik, psikis dan finansial.

Bulan Ketujuh
Memasuki bulan pertama tri semester ketiga (Bulan Ketujuh), Berat badanku tambah naik. Mengutip Centers for Disease Control and Prevention (CDC), kenaikan berat badan ibu hamil penting lho untuk kesehatan kehamilan kita dan untuk kesehatan jangka panjang ibu dan calon bayi di dalam perut. Walau berat badanku naik drastis, kuncinya tetap mengonsumsi makanan sehat untuk memberikan nutrisi penting untuk si cadebay dalam kandunganku. Ingat Moms, apapun yang kita konsumsi ikut di konsumsi si buah hati.

Bengkak kan? Hehe...

Tanggal 24 Januari 2018, Aku mengurus pemindahan faskes persalinanku di BPJS Kesehatan Pohuwato. Walaupun tanpa ditemani Suami (karena dia lagi sibuk kerja), Alhamdulilah selesai juga pergantian faskes dari Puskesmas Marisa ke Puskesmas Upai tanpa kendala apapun.

Alasan pemindahan faskes biar gak ribet bila waktu persalinanku tiba. Sebab telah kubulatkan tekad untuk persalinan anak keduaku tetap di Upai, Kampung halamanku.

Gimana ya rasanya lahiran di Tanah Rantau? Si Azka anak pertamaku, dilahirkan di Kotamobagu. Wajar sih, anak pertama jadi sifatnya WAJIB di kampung halaman. Hehe.. Trus, kehamilan keduaku ini rasanya masih belum mampu juga untuk bersalin di tanah rantau.

Oh iya, Sobat Diary lebih milih mana lahiran di kampung sendiri atau di tanah rantau? Tentu jawabannya bisa sangat subjektif sekali tergantung situasi dan kondisi. Untuk bunda-bunda yang berjiwa berani dan mandiri, tentunya tidak masalah persalinan di tanah rantau tanpa didampingi sanak saudara, hanya suami yang setia menemani.

Berbeda halnya denganku yang bawaannya manja kalo lagi hamil dan gak bisa kalau ngapa-ngapain tanpa kerabat dan family yang membantu, termasuk untuk urusan persalinan ini. Suamiku selalu berpesan, sekalipun Bumil kalo hidup di perantauan, DILARANG MANJA. Sebagai perantau tentu kami dituntut mandiri, apalagi kami tak punya sanak family di Bumi Panua ini.

Pada Bulan ketujuh ini aku mengalami insiden yang nyaris membuat diriku dan calon bayiku celaka. Ini karena aku juga kurang hati-hati saat masuk kamar mandi di kantorku.

Pagi menjelang siang di tanggal 9 Februari 2018, kejadian yang mungkin tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Aku terpeleset di kamar mandi, untungnya aku masih siaga dan masih bisa menyeimbangkan badan, sehingga tidak terjungkal. Jatuhnya menyamping. Orang-orang disekitar kamar mandi langsung panik dan segera menghubungi suamiku.

Saat itu yang kurasakan takut, cemas, deg-degan dengan perasaan tak karuan. Suamiku memandangku kosong. Si Cadebay tidak bergerak lagi sepanjang perjalanan aku dilarikan ke Rumah Sakit. Aku terus mengusap perutku, berharap si cadebay akan bergerak di dalam rahimku. Rasa makin panik, gerakan yang aku harapkan sekedar “say hello” tak kunjung kurasakan.

Untunglah ada istri dari teman suamiku yang kerja di Rumah Sakit Umum Daerah Bumi Panua, dan langsung masuk ke Poli Kebidanan dan Kandungan. Hasil USG Dokter, Plasentaku langsung turun dan ada flek darah, tapi untungnya tidak mengalami pendarahan.

Alhamdulillah, Allah masih melindungiku dan calon bayiku. Hasil diagnosa dokter secara keseluruhan semua baik-baik. Aku sangat bersyukur walaupun masih ada rasa bersalah didiriku karena tidak hati-hati.

Bulan Kedelapan
Bulan kedelapan ini tidurku mulai tidak nyaman, miring kiri atau miring kanan rasanya sesak banget. Sering merasa cemas, deg-degan yang berlebihan bahkan tidak keruan. Tapi aku sadari ini perasaan yang wajar menjelang persalinan, apalagi aku barusan mengalami kejadian yang sangat fatal. Kusibukkan hari-hariku dengan rutinitas yang ada, baik di rumah maupun di Kantor untuk menghilangkan rasa cemas yang berlebihan.

Alhamdulilah dengan kondisi hamil tua, Allah masih berikan kekuatan dan nikmat kesehatan untuk menjalankan tugas sebagai Ibu, Istri dan ASN. Bangun subuh masak sarapan suami dan anak trus beres-beres persiapan ke kantor, mandiin anak dan berangkat ke kantor.

Tanggal 8 Maret 2018, aku sempatkan diri konsultasi ke dokter Kandungan tentang proses persalinanku. Aku beranikan diri untuk bertanya ke dokter tentang persalinan normal karena mengingat si Cadebay tidak terlalu besar. Dokter kandungan hanya tersenyum, dan berkata, “Ibu, posisi ade malintang, jadi biar kecil tetap mo SC ulang”.

Aku pasrah aja dan tersenyum mendengar apa yang dokter katakan. Dalam batinku, telah siap untuk menghadapi Secar persalinan anak kedua. Bismillah...

Aku dianjurkan segera mengurus Cuti Bersalin, dan balik lagi tanggal 22 Maret 2018 untuk cek up terakhir. Tanggal 17 Maret 2018, Baai dan Aki Azka (Ayah dan ibuku) datang ke Kota Marisa untuk menjemput aku dan suamiku. Tanggal 21 Maret ditemani ibuku, pergi ke Puskesmas Marisa untuk mengambil Surat Pengantar Cuti Bersalin.

Singkat cerita, semua proses Alhamdulillah berjalan lancar, hingga akhirnya kami pulang kampung halaman. Setiba di Upai, langsung menyiapkan dan mengemasi segala perlengkapan yang akan dibutuhkan di rumah sakit sewaktu bersalin. Untuk jaga-jaga jika tiba-tiba aku akan melahirkan sebelum tanggal prediksi.

Bulan Kesembilan
Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Fatimah Kotamobagu

Sobat diary
, dugaanku tepat, karena memasuki usia kandungan 2 minggu dibulan kesembilan (genap 8 bulan 2 minggu) hasil diagnosa dokter langsung merekomendasikan untuk segera operasi secar karena hasil diagnosa ada kelainan dirahimku, mungkin pengaruh aku jatuh di kamar mandi pada bulan Februari kemarin. Sehingga bulan sembilan tri sementer terakhir ini tidak aku jalani lagi secara penuh.

Semua telah siap dan Dokter telah menentukan jadwal operasi secar pada tanggal 2 April 2018 di Rumah Sakit Ibu dan Anak Kasih Fatimah Kotamobagu. See you next story...

Kenangan Masa Kehamilan Kedua di Tri Semester Kedua

Trimester kedua kehamilan berlangsung mulai dari minggu ke-13 hingga minggu ke-27. Di periode ini, biasanya ibu hamil sudah lebih enjoy dan energik walau sedikit agak puyeng. Keluhan mual-mual tak aku rasakan lagi dan sudah hilang sama sekali.


Mumpung lagi santai, aku mau nulis “catatan bersejarah”, sesuatu yang insyaa Allah akan bermanfaat untuk teman-teman Diary dan siapa saja yang nyasar ke blog ini. Haaayuuk…. lanjutin kenangan Masa Kehamilan Kedua di Trisemester Kedua. Story di trisemester pertama, klik link ini ya?

Bulan Keempat
Meski sudah mulai merasa lebih nyaman, pusing masih sering aku alami di awal trisemester kedua. Konsultasi ke dokter, hasil diagnosa ternyata aku darah rendah. Kata dokter, tekanan darah rendah biasanya disebabkan oleh adanya perubahan hormon dan peningkatan aliran darah ke janin. Selain itu, tekanan darah rendah juga bisa disebabkan oleh anemia, dehidrasi, kurangnya asupan nutrisi, infeksi, dan pengaruh obat yang dikonsumsi.

Dokter sarankan agar aku mengkonsumsi makanan penambah tekanan darah rendah hingga makanan yang mengandung banyak air.


Selain itu, dokter memberikan obat tambahan penambah tekanan darah.



Agar calon buah hati tetap sehat selama di kandungan, aku mulai rutin pemeriksaan kandungan dengan harapan agar selama kehamilan ini aku dan cadebay sehat insyaa Allah. Sesuai pengalaman di masa kehamilan pertama. ada 2 (dua) lokasi yang aku pilih sebagai tempat pemeriksaan kehamilan hingga lahiran, yakni Bidan Puskesmas Marisa dan Dokter Spesialis Kandungan di Kota Marisa, dr. Agus Hasan, Sp.OG.

Aku mendapatkan lagi kitab sakti kehamilan saat check up di Bidan Puskesmas Marisa, hehe.. yakni Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang merupakan media pencatatan pelayanan kesehatan ibu dan anak sejak ibu hamil, melahirkan, nifas hingga proses merawat anak usia lima tahun. Di buku ini, pencatatannya mencakup pelayanan imunisasi, gizi, tumbuh kembang anak, dan KB.


Secara garis besar, ada dua elemen penting yang kudapatkan dari buku KIA, yaitu sebagai media pencatatan atau monitoring kesehatanku dan calon bayi. Dan yang kedua adalah informasi-informasi seputar kesehatan ibu hamil, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak meliputi imunisasi, gizi seimbang, vitamin A, dan pola makan anak seperti kebutuhan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Lengkap deh pokoknya.

Rahim yang terus membesar dan pergerakan si kecil di dalam perut, kini mulai dapat aku respon dengan natural. Perut terasa keram dan sedikit panas di bagian dada sekali-sekali kurasakan. Tetap sabar ya Bu, Gak apa-apa, itu pengaruh perkembangan si kecil dalam rahim ibu, Kata dokter.

Sama dengan kondisi di masa kehamilan pertama, walau sudah sedikit nyaman namun aku paling jarang mandi dan berdandan. Aktivitas dan rutinitas kantor tetap kujalani seperti biasanya, bahkan aku masih bisa ikut bergabung dengan kegiatan-kegiatan bulanan DWP Unit BKPP Kabupaten Pohuwato.

Bulan Kelima
Memasuki bulan kelima, perutku sudah lebih membuncit, terutama pada bagian bawah. Berat badanku kurasakan sedikit naik (baca, gagal diet lagi hahaha…), mungkin karena pengaruh peningkatan nafsu makan ya.

6 Desember 2017, check up lagi ke Dokter Spesialis Kandungan untuk pengecekan USG. Memeriksa pertumbuhan bayi serta untuk memastikan waktu kelahiran. Saat USG, hatiku deg-degan, karena alat kelamin si cadebay sudah mulai berkembang dan bisa dilihat pada bulan kelima masa kehamilan.

Dan, taraaaaaaaaaaaaa… setelah di USG, berjenis kelamin laki-laki. Alhamdulillah baby boy lagi. Aku lihat suami tetap tenang dan tersenyum. Dia ketawa lepas, saat dokter Agus celoteh, “Ayah, siapkan saja ring tinju di rumah, karena si kakak udah ada lawan tandingnya”

Bulan kelima masa kehamilan, aku dan suami sepakat untuk menyapih atau menghentikan si Azka menyusu ASI. Pertimbangannya, si cadebay juga butuh nutrisi lebih dariku untuk perkembangannya. Menyapih anak adalah hal paling sulit bagiku dan terutama si Azka. Saking teganya, aku bohongi si Azka dengan mengoleskan balsem di payudara, bahkan memberikan ramuan agar rasanya pahit. Kusadari ini adalah cara yang salah. Walaupun begitu, perlahan namun pasti aku tetap memberitahukan yang sebenarnya kepada si kecil Azka.


“Maafkan Bunda Nak, ada adik bayi yang mau makan di dalam perut bunda. Jadi Kakak Azka minum susu di botol dot saja ya?” Pokoknya aku buat si Azka senyaman mungkin. Ada tambahan pengeluaran lain-lain sih akibat menyapih si Azka, yakni cemilan kesukaannya agar dia tidak rewel.


Perubahan fisik yang kualami di bulan ke-5 bulan, yakni munculnya varises dan stretch marks, payudara membesar, dan rasa lapar yang tidak berhenti. Pregnancy brain atau kondisi sering lupa dan sulit berkonsentrasi, mood swings atau perubahan suasana hati dan stress juga sering kualami. Gejala-gejala seperti yang kurasakan di bukan ke-4 seperti sesak napas masih ada juga, selain itu sering sakit kepala, kelelahan, kram, sakit punggung serta pembengkakan di tangan dan kaki.

Bulan keenam
Bulan keenam adalah tahap akhir dari kehamilan trimester 2. Di bulan ini yang kurasakan paling melelahkan. Banyak agenda dan rutinitas kantor menghadapi akhir tahun, serta merawat si kecil Azka dengan beban diperut yang makin membesar. Kata dokter, kondisi ini cukup wajar. Sebab, ibu sering merasa lelah karena tubuh sedang bekerja keras untuk memastikan janin berkembang dengan baik. Semua tetap kusyukuri dan kunikmati, Alhamdulillah Yaa Allah...

Aku dan suami berencana mau akhir tahun di Kampung halaman, Kotamobagu. Bertepatan dengan agenda kantorku yang akan melaksanakan kegiatan Family Gathering di Kota Manado. Aku pun menyiapkan “energi lebih” untuk agenda jalan-jalan ini. Gak bisa capek, harus kuat, makan teratur dan istirahat yang cukup, batinku.

Nih dokumentasi waktu jalan-jalan akhir tahun 2017 di Kota Manado...





Next...

Aku jadi keseringan buang air kecil. Olahraga jalan pagi di seputaran kawasan perumahan selama 20 sampai 30 menit sering kulakukan. Oh iya, Ketika kehamilan menginjak usia enam bulan, pendengaran bayi telah berkembang. Maka yang sering kulakukan adalah mulai mengajaknya bicara atau memperdengarkan ayat-ayat suci Al-Qur’an padanya.

Seiring perutku yang kian membesar, tidur telentang kurasakan bukan lagi opsi untuk tidur yang nyaman. Rasa sesak akibat tekanan rahim justru membuatku susah tidur. Maka, yang kulakukan adalah mengatur posisi tidur senyaman mungkin agar tetap bisa beristirahat dengan maksimal.

Berbaring menyamping ke kiri atau ke kanan. Menyelipkan bantal di antara dua kaki dan pakai bantal lain untuk menyangga perut. Tumpuk dua bantal pada bagian kepala untuk mengurangi rasa sesak. Guling lainnya kujadikan penyangga tubuh bagian belakang saat tidur menyamping untuk mengurangi pegal-pegal di pinggang. Nyaman deh…

Apa lagi ya? Rasanya hanya itu yang aku rasakan di trisemester kedua. Masih ada satu trimester lagi deh, udah ya Diaryku. Mau istirahat dulu.

Welcome trisemester ketiga…


Kenangan Masa Kehamilan Kedua di Tri Semester Pertama

Hwaaa.. Kebobolan hamil lagi?

Entahlah, tapi yang kurasakan saat menulis memori ini hanyalah rasa antara percaya dan tidak percaya. Antara rasa pengen teriak karena belum siap dan rasa haru serta bahagia. Lagi-lagi kali ini kejadiannya seperti saat kehamilan pertamaku, sungguh diluar prediksi dan tanpa direncanakan.


4 (empat) bulan kepindahan kami di kos Citra Mandiri, aku fix hamil lagi. Alhamdulillah... Pantas saja diakhir bulan Juli hingga awal bulan Agustus 2017 Azka sangat cengeng dan bawaannya gak mood terus, ternyata ada si cadebay calon adiknya dalam kandunganku. Smoga Allah slalu melindungimu Nak dan memberikan rahmat serta perlindungan tuk keluarga kecilku. Aamiin...


Seharusnya sejak tanggal 7 Agustus 2017, jadwal haidku datang. Ya, walaupun jarang meleset, paling tidak telatnya hanya dua atau tiga hari saja paling lama. Tapi kali ini sudah lebih dari seminggu.

Bulan Pertama

Sabtu, tanggal 19 Agustus 2017, pukul 7 malam diam-diam aku mencoba tespek yang sengaja kubeli karena rasa penasaran dengan haidku yang tak kunjung datang. Dan betapa kagetnya aku, ternyata hasilnya bergaris dua. Positif hamil.

Suamiku hanya senyum-senyum begitu tau kehamilanku dengan melihat dua garis tebal di tespek. Dia mengajak aku ngobrol dari hati ke hati. Menanyakan mentalku kalo sudah siap dengan kehadiran calon bayi kedua. Pertimbangan suamiku cukup logis, yang pertama Azka belum genap usianya 2 tahun (masih sekitar 18 bulan), dan kedua Azka masih menyusu ASI.

Aku kuatkan hatiku, walau bagaimanapun aku yakin dan percaya Allah Maha Besar tidak akan membebani hamba-Nya dengan sesuatu melainkan sesuai dengan kesanggupannya.


Usia kandunganku sudah 7 minggu

5 hari kemudian, yakni tanggal 23 Agustus 2017, suamiku mengajak aku untuk melakukan check up ke Dokter Kandungan. Hasil diagnosa dokter, ternyata kandunganku telah berusia 7 minggu.

Selamat, ibu sudah hamil 7 minggu! Ini berarti ibu telah berada di bulan kedua kehamilan, kata dokter.

Berarti aku baru menyadari sedang mengandung ketika masuk bulan kedua? Sudah melewati bulan pertama dong, Alhamdulillah.

Dokter mewanti-wanti nanti trisemester awal sampai minggu ke-15 akan ada masa mulai mual dan susah makan.

Bulan Kedua

Di bulan kedua trimester awal, aku ngalamin yang namanya gampang capek dan ngantuk, setiap hari setelah makan siang pasti aku ketiduran. Selain itu, mudah emosional sebab ada Batita juga yang masih aku urus. Sama suami juga jadi gampang marah. Selain itu, di masa-masa ini aku jadi gampang cengeng, sampe kadang suka ngerasa bersalah sama cadebay di perut, karena aku emosional banget.

Aku mulai mengalami sering buang air kecil, terkadang mengalami sembelit. Makanya dokter manganjurkan agar aku makan makanan yang berserat dan juga minum air yang cukup, agar BAB-nya tetap lancar.

Bawaanku senang makan daging, terutama sate ayam. Konon katanya kalo sering makan daging bisa bikin ibu hamil bayi laki-laki, Benarkah hal itu? Ahh aku kurang yakin, tapi suamiku begitu yakin menebaknya.

Karena trimester 1 ini adalah masa yang paling rawan, maka aku selalu menjaga kondisi kesehatanku agar tidak terlalu capek. Banyakin tidur siang, di kantor pun begitu, aku sempatkan waktu untuk tidur siang walau hanya 30 menit. Mual-mual belum aku rasakan hingga minggu ke-9.

Begitu mendengar kalo aku lagi hamil, orang tuaku datang menjenguk kami di Kota Marisa. Moment ini bertepatan dengan rencana kami juga yang mau pindah dari kos-kosan ke rumah sendiri di kawasan Perum Griya Marisa pada tanggal 31 Agustus 2017, sehari sebelum Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah yang jatuh pada tanggal 1 September 2017. Jadi, orang tuaku sekalian merayakan Idul Adha di Kota Marisa. (Storynya BACA DISINI)

Bulan Ketiga

Perubahan dalam tubuhku sudah mulai terlihat, terutama di bagian perut. Apakah mungkin karena pengaruh peningkatan nafsu makan ya? Hehe.. Aku mulai mempersiapkan baju-baju hamil, meskipun perutku belum terlalu besar, ini untuk mengurangi tekanan yang terjadi di perut.

Mual mulai aku rasakan tapi tidak sampai muntah-muntah. Hal-hal aneh mulai terjadi pada diri ini, di mana membuat suamiku ikut-ikutan kebingungan sekaligus lucu. Ya, aku paling tidak suka mencium aroma parfum, melihat botol parfum suami pun kadang terasa enek.

Olahraga ringan seperti jalan pagi bersama si kecil Azka mulai aku lakoni lagi. Rute seputaran kawasan perumahan, sekaligus adaptasi dengan lingkungan yang baru. Maklum belum sebulan pindah ke lokasi ini.

Oh iya, di awal kehamilanku ini ada masalah yang sedikit membebani pikiranku. Suamiku tersandung kasus yang kini ditangani kepolisian Resort Pohuwato dan sudah dilimpahkan ke Kejaksanaan. Kasus perselisihan dengan teman sekantornya, yang menyebabkan suamiku dilaporkan. Walau begitu, aku yakin suamiku tidak bersalah. Aku mengenali karakter suamiku, dia gak mungkin berbuat lebih kalo gak ada sebabnya. Dia hanya membalas apa yang sering dilakukan oleh temannya.

Suamiku sering menasehatiku, agar jangan dimasukin ke hati dan pikiran, takutnya mengganggu suasana hati dan timbul pikiran-pikiran negatif atau rasa cemas, yang nantinya berefek pada si cadebay. Kita jalani saja proses hukumnya, celotehnya santai. Suamiku enjoy-enjoy saja walau beban masalah yang dipikulnya tidak ringan. Aku tahu, suamiku hanya tidak ingin menampakkan semua beban pikirannya didepanku.

Bukti kalo dia enjoy walau ada masalah, suamiku sering mengajak aku pergi ke pantai. Entah jalan pagi, mandi di tepi pantai atau jalan-jalan sore. Untunglah Pantai di Kota Marisa begitu dekat, sehingga tak perlu mengeluarkan biaya alias gratis.




Segini aja ya Diary… bingung mau nulis apa lagi.

Intinya di tri semester awal masa kehamilan yang kedua tidak ada bedanya dengan masa kehamilanku yang pertama. Yang berbeda hanya lokasi kejadian, ehh tempatnya yang berbeda. Saat ini kami udah di rumah sendiri, yang kemarin masih di rumah kontrakan. :)

Kenyamanan hati dan pikiran sangat penting, istirahat yang cukup, konsumsi makan sehat dan bergizi, tetap berolahraga dan luangkan waktu untuk bersantai. Itu aja tips dariku untuk jalani masa kehamilan di trisemester pertama.

Udah ya? Ketemu lagi di kenangan tri semester kedua…

Cerita Prosesi Kelahiran Anak Pertamaku


Azka genap berusia 1 bulan
dengan berat 4,7 kg dan tinggi 50 cm

Tak terasa anakku hari ini genap berusia 1 bulan. Maaf ya.. aku jarang nulis, paling bentar ngedraft dikit-dikit aja, tapi gak tau kapan publish postingannya..Ditambah lagi dengan kesibukanku yang baru, ngurusin baby Azka. Pokoknya dinikmati aja jadi Mahmud.. Mamah Muda hehe...

Karena udah pengen ngeblog, mari mulai dikit-dikit... Catatanku kali ini tentang prosesi persalinan anakku 1 bulan yang lalu...

Kalo baca-baca cerita kisah melahirkan masing-masing ibu, semuanya tuh kayak mukjizat, semuanya luar biasa walau bagaimanapun cara melahirkannya. Awalnya keinginanku untuk bisa melahirkan secara normal, tapi vonis dokter yang mengharuskan aku menerima kenyataan bahwa aku harus di operasi cesar.

Azka dilahirkan di RS Datoe Binangkang, Kota Kotamobagu Provinsi Sulawesi Utara, tempat yang sama dimana aku dilahirkan dulu pada tahun 1987 (28 tahun yang lalu). Azka lahir melalui operasi cesar dengan bantuan dr. I Gede Watumbara, SPOG.

9 Februari 2016


Kontrol Mingguan. Check up lagi ditemani mamaku pukul 19.00 WITA, karena suamiku lagi ditempat tugasnya, Kabupaten Pohuwato. Berdasarkan diagnosa dokter : Keadaan bayi dalam kondisi baik-baik, masa kehamilan akan memasuki 40 week. Air ketuban makin sedikit, bertahan hanya untuk 1 minggu, ada pengapuran plasenta.

Saran Pak dokter : Sebaiknya secepatnya dicesar. Jika dipaksakan buat induksi akan fatal akibatnya, karena posisi kepala bayi belum masuk ke mulut rahim, kalo sampe minggu depan gak ada tanda-tanda melahirkan ya harus segera masuk ke RS. Segera minta persetujuan suami untuk proses persalinannya melalui cesar.

Pukul 21.00 WITA, nelpon suami, memberitahukan hasil diagnosa dokter. Suamiku setuju saja mana yang terbaik menurut dokter.

10 sampai dengan 12 Februari 2016


Belum ada tanda-tanda mau melahirkan, seperti sakit dibagian perut sampai panggul. Aku lewati hari-hari seperti biasanya. Jalan pagi, melakukan aktivitas rumah, seperti menyapu dan cari kesibukan lainnya.

13 Februari 2016


Pukul 18.30, WITA, Sepupuku Kak Ayu dan Kak Wanti mengecek ruangan VIP di RS Datoe Binangkang. Alhamdulillah ada kamar VIP yang kosong. Booking, bersihkan kamar dan ambil kunci kamarnya. Siap ditempati untuk rawat inap nanti selama persalinan.

14 Februari 2016


Pukul 07.00, suamiku tiba di Upai. Berangkat dari Kota Gorontalo malam hari sekitar pukul 23.00 WITA menggunakan mobil Garuda jurusan Manado dan turun di jembatan kayak. Lanjutin perjalanan ke Kotamobagu menggunakan Angkot Jurusan Terminal Mongkonai.

Pukul 09.00, Doa syukuran, baca salawat bersama keluarga besarku mau menyambut calon keluarga baru.

Tepat pukul 12.00 WITA, bersama keluargaku menuju ke RS. Datoe Binangkang. Siap untuk operasi cesar besok harinya.

Pukul 22.00 WITA, aku diminta untuk puasa oleh bidan selama 12 jam untuk persiapan operasi cesar.

15 Februari 2016


Pukul 07.00 WITA. Mandi dan bersih-bersih, siap masuk ke ruang operasi. Aku deg-degan, suamiku terlihat tenang.

Pukul 08.00 WITA, Keluar kamar VIP menuju ruang persalinan untuk dilakukan check up, dipasang kateter dan inpus sambil menunggu dokter siap melakukan operasi.

Pukul 10.00 WITA. Aku dibawa ke ruang operasi pakai brankar dorong. Yang mendorong brankarnya Suamiku dan sepupuku yang di biga, is. Mereka berdua hanya sampai di pintu ruang operasi. Sambil tak henti-hentinya berdoa, brankar terus di dorong masuk ke ruang operasi oleh tenaga medis.

Pukul 10.15 WITA, Berada diruang operasi. Tapi masih menunggu 1 pasien lagi ditangani oleh dokter SPOG.

Pukul 10.40 WITA, Dokter spesialis anastesi mulai melakukan check up, tensi darah, denyut jantung, suntik bius / anti nyeri, dll.

Pukul 10.50 WITA, Dokter I Gede Watumbara mulai melakukan tugasnya, Operasi cesar. Dengan dibantu beberapa asistennya, mereka sangat tenang melakukan operasi. Tak henti-hentinya aku panjatkan doa selama proses operasi berlangsung. Tak lama kemudian, tanpa terasa menurut perhitunganku kurang lebih 10 menit, terdengarlah tangisan bayi yang begitu keras, aku sangat terharu. Dokter mengangkat bayinya dan menyerahkan ke bidan asistennya. Bidan langsung menyodorkan si bayi tepat di pipi sebelah kiriku. Kecupan pertama Azka untuk bundanya hehe...

Pukul 11.00 WITA. Proses menutup luka operasi dilakukan. Kurang lebih selama 30 menit.

Pukul 11.30 WITA. Aku keluar dari ruang operasi. Seluruh keluargaku sudah menunggu, dan langsung mendorong brankar ke ruang rawat inap operasi persalinan. Kulihat wajah suamiku terasa habis melewati masa tegang. Dia tersenyum bahagia, apalagi habis dari ruang bayi selesai melakukan adzan dan qomat untuk anaknya yang baru lahir.

Pukul 11.45 WITA, aku sudah berada di ruang rawat inap pasien operasi cesar. Dalam ruangan ada sekitar 3 pasien yang sebelumnya di operasi cesar juga.

Sekitar Pukul 13.00 WITA, Biusnya mulai hilang, dan rasa nyeri pada luka operasi mulai terasa. Mama dan suamiku terus menemaniku di ruang inap sambil sesekali mendekati ruangan bayi. Aku belum bisa ketemu dengan anakku.

Pukul 14.00 WITA. Bidan melakukan check up dan aku dipandu untuk melakukan gerakan miring kiri dan miring kanan. Nyeri rasanya, tapi mau gimana lagi, ini namanya proses, butuh perjuangan... hehe.. Hingga malam hari, kami sekeluarga tidur di ruang rawat inap, berbaur dengan keluarga pasien yang lain.

Foto Azka waktu keluar dari ruang operasi
digendong bidan Rumah Sakit

16 Februari 2016


Pukul 10.00 WITA. Aku dipindahkan ke kursi roda. diangkat oleh Suamiku, papaku, dan Papa Defri (suaminya Kak Wanti) untuk dipindahkan ke ruang VIP. Suamiku mendorong kereta hingga di depan ruang VIP. Diangkat lagi dan dibaringkan, setiap gerakan aku rasakan nyeri di luka bekas operasi. 10 menit kemudian bayiku diantar bidan ke ruangan, dibaringkan didekatku. Bahagia dan rasa haru bercampur.. Alhamdulillah, Terima kasih ya Allah, aku akan menjaga dengan baik amanatmu ini.

Bayinya lucu dan tampan. Aku langsung memberikan ASI yang pertama. Dia begitu lahapnya, karena selama di ruang bayi, anakku hanya diberikan susu pendamping, Lactogen. Kami menginap di VIP Room RS Datoe Binangkang sampai dengan tanggal 18 Februari 2016.

17 Februari 2016


Azka pertama kali dimandikan oleh bidan Rumah Sakit. Sangat lucu




Azka berpose selesai mandi.. Segarrnyaaaa...

18 Februari 2016


Setelah melakukan check up secara rutin, memandikan azka menyelesaikan administrasi di rumah sakit, bada' dzuhur aku keluar (check out) dari RS Datoe Binangkang. Menuju rumahku di Kelurahan Upai bersama keluarga besarku.

Minggu-minggu pertama di rumah, aku mulai belajar berjalan. Menggendong bayi untuk menyusuinya. Proses mengenalkan ASI buat bayiku pun intens dilakukan selain memberikannya susu pendamping, Lactogen.

Semua aku lalui dengan enjoy tanpa ada latihan sedikit pun sebelumnya. Maha besar Allah dengan segala kemampuan-Nya memberikan naluri alamiah seorang ibu untuk merawat anaknya.

OK sip? segitu aja ya kisah proses kelahiran anakku yang pertama, Azkaraynar.

Storynya kepanjangan deh.. tapi lumayanlah untuk bisa berbagi info dengan teman-teman blogger. Jangan bosan-bosan ya untuk membacanya hahaha.. see u next time...

Alhamdulillah Telah Lahir Putra Pertama Kami



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillah...
Alhamdulillah.. Penantian selama 3 tahun akhirnya terbayarkan, lega rasanya hati ini..

Telah lahir dengan selamat Putra buah hati pertama kami pada hari Senin, Tanggal 15 Februari 2016 (6 Jumadil Awwal 1437 H) di Rumah Sakit Datoe Binangkang, Kota Kotamobagu, Provinsi Sulawesi Utara pada pukul 11.00 WITA melalui operasi sesar, dengan BB 3,7 kg, panjang 49 cm.

Smoga kehadiranya selalu membawa keberkahan bagi keluarga kami, menjadi anak yang sholeh, berbakti pada orang tua, berguna bagi agama, keluarga, nusa dan bangsa.


Mohon do’anya semoga anak pertama kami tumbuh sehat dan cerdas, diberi kesehatan dan umur panjang. Aminnnn... Dan semoga kami bisa menjadi orang tua yang baik dalam mendidik dan membesarkannya. Insya Allah.

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Salam
Ifoell dan Yana

Masa Kehamilan Pertamaku di Tri Semester Ketiga

Yihaaaaa perutku semakin bunciiiittt

"Fabiayii Alaairobi Kumatukadziban" Puji syukur yang tiada pernah henti-hentinya kupanjatkan pada-Mu Ya Allah atas Anugerah terbesar ini. Alhamdulilah, masa kehamilanku memasuki Tri Semester Ketiga (minggu 28-40), dan Insyaa Allah akan terus dilancarkan sampai proses lahiran nanti.. Aamiin Allahuma Aamiin.


Seperti biasa, aku ingin melanjutkan ceritaku tentang masa kehamilan pertamaku. (Ehh iya.. story sebelumnya ada disini ya? Trisemester Pertama dan Trisemester Kedua).

Dan saat ini sudah memasuki bulan Februari 2016, Itu artinya, waktuku untuk bertemu dengan Si Kecil debay sudah semakin dekat. Di trimester akhir ini, sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapi persalinan. Mumpung masih bisa nulis di notepad handphone, aku mau bagi kenanganku di masa-masa awal Tri Semester Ketiga ini.


Bulan Ketujuh

Yang pertama aku rasakan saat memasuki bulan ketujuh masa kehamilan pertamaku adalah kaki yang membengkak. Saat konsultasi ke Dokter kandungan, ternyata pembengkakan di tangan, kaki dan pergelangan kaki sangat umum terjadi pada ibu hamil. Setiap malam, suamiku melakukan terapi pijat untuk sedikit menetralisir pembengkakan. Bawaanku cepat capek. Yang membuatku lega, Dokter menginformasikan bahwa kaki bengkak pada ibu hamil bisa hilang dengan sendirinya 24 jam setelah melahirkan. Syukurlah…

Berat badanku makin naik. Sudah bisa dibayangkan teman-teman, di tri semester kedua saja sudah 69 kg, dan sekarang.. ahh sudahlah, gak perlu diumbar. Hahaha… Niatku hanya satu, pengen diet setelah persalinan nanti. Langsing kembali pasca melahirkan? Mungkinkah? Entahlah biar waktu yang menjawab dan membuktikan, yang terpenting saat ini aku sehat dan happy bersama cadebayku. Alhamdulillah.

Di tri semester ketiga, nafsu makanku meningkat. Dokter melarang untuk mengkonsumsi karbohidrat dan makanan yang manis secara berlebihan karena bisa berdampak pada bayi. Menurut dokter, Kadar gula berlebih dapat melewati plasenta dan meningkatkan kadar gula darah janin. Ini bisa meningkatkan produksi insulin dalam tubuh bayi dan dapat membuat bayi tumbuh lebih besar atau disebut makrosomia.

Nah, melahirkan bayi yang besar dapat menyebabkan komplikasi seperti kebutuhan operasi caesar, kelahiran prematur dan masih banyak lagi. Makanan manis juga menurut dokter hanya menyediakan kalori kosong dan tanpa energi. Ya udah, mau gimana lagi. Aku ikuti semua petunjuk dokter walaupun sekali-sekali aku melanggarnya. Hehehe..

Apalagi ya? Oh iya, si cadebay makin aktif. Menendang dan entah apalagi yang dilakukannya didalam sana, yang kurasakan sakit di area perut ketika dia bergerak. 

Maaf pak dokter... sekali-sekali makan ini boleh kan?
Leherku gak bisa kompromi, hehe..


Saat usia kandungan memasuki bulan ketujuh, kebiasaan dan adat istiadat masyarakat Gorontalo adalah melaksanakan ritual “raba-raba puru” atau bahasa daerah gorontalo disebut molonthalo. Nah, ini juga berlaku untuk aku dan suamiku. Acara molonthalo dilaksanakan tanggal 26 Desember 2015 di rumah keluarga suamiku di Kelurahan Buladu. Keluargaku dari Kotamobagu pun turut hadir pada acara ini. 

Aku dan suami mengikuti prosesi ritual molonthalo

Masyarakat Gorontalo melaksanakan ritual molonthalo sebagai tanda atau doa selamatan yang menandai tujuh bulan usia kehamilan. Menurut om google, orang Jawa menyebutnya dengan istilah upacara Nujuh Bulanan, dalam dialek Melayu Manado disebut dengan Upacara Raba Puru (usap perut).

Pelaksanaan ritual molonthalo bertujuan sebagai wujud pencarian keberkahan akan hadirnya anggota keluarga baru. Acara ini merupakan pernyataan dari keluarga pihak suami bahwa kehamilan pertama adalah harapan yang terpenuhi akan kelanjutan turunan dari perkawinan yang sah. Gitu lho makna yang terkandung di ritual ini, (Ritual molonthalo untuk anak pertamaku, silakan baca disini).


Bulan Kedelapan

Memasuki usia kandung 35 minggu, perutku mulai terasa berat dan sering kesemutan. Aku masih rajin check up ke dokter kandungan. Hasil diagnosa di bulan kedelapan, kepala cadebay udah mulai masuk ke panggul, itu tandanya persalinanku makin dekat. Mudahkanlah Ya Allah.. Aamiin. Pengen rasanya cepat-cepat pulang kampung halaman di Kotamobagu.

Diusia kandungan di bulan kedelapan ini, dokter pun menganjurkan harus minum air putih sekiranya 8 gelas per hari, ditambah 1 gelas tiap kali habis melakukan aktivitas ringan. Kurang minum air dapat menyebabkan dehidrasi yang bisa menimbulkan beragam masalah kesehatan, baik pada ibu hamil maupun si cadebay.

Dokter juga menganjurkan untuk rutin olahraga ringan, seperti jalan santai di pagi hari atau beraktifitas dirumah. (Kok dokter bisa tahu kalo aku paling suka bermalas-malasan.. hehehe). Rutin berolahraga akan memberikan banyak manfaat bagi ibu hamil, di antaranya mengatasi nyeri punggung, meredakan sembelit dan perut kembung, meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot, serta membuat tidur menjadi lebih berkualitas.

Box bayi calon debayku.. nuansa hijau kuning

Perlengkapan bayi, seperti baju, celana, topi bayi, kain bedong termasuk box bayi dan merias kamar untuk si cadebay, aku siapkan diakhir bulan kedelapan sampai memasuki bulan kesembilan usia kandunganku. Perlengkapan bayinya aku beli di Gorontalo dan yang merias kamar si cadebay adalah suamiku sendiri. Yah tentunya yang dirias adalah kamar di rumah orang tuaku di Kotamobagu. Walaupun aku penyuka warna pink, aku pilihkan untuk si cadebay nuansa warna kuning dan hijau.


Bulan Kesembilan

Pertengahan bulan Januari 2016, gak terasa sudah memasuki minggu ke-39, berarti aku sudah harus siap siaga karena tiap saat ada kemungkinan untuk melahirkan. Aku pun sudah mengajukan cuti persalinan dan siap-siap cusss ke kampung halaman. Berdasarkan surat rujukan dokter kandungan aku pulang kampung berangkat ke Kotamobagu tanpa harus menunggu lagi ijin cuti yang sementara di proses. Tapi Alhamdulillah, aku beroleh ijin cuti persalinan dari tanggal 10 Februari 2016 sampai dengan 10 Mei 2016.

Saat mau berangkat kami menyempatkan diri berkonsultasi ke dokter kandungan, dan dia menyarankan sebaiknya menggunakan bus besar agar tidak terasa benturan-benturan saat dijalan nanti. Perjalanan pulang ke kampung halaman sangat melelahkan, jaraknya memakan waktu hingga 12 jam perjalanan.

Setelah tiba di Kotamobagu, kontrol mingguan tetap kujalani. Tanggal 9 Februari 2016, Check up lagi ditemani mamaku pukul 19.00 WITA. Berdasarkan diagnosa dokter, keadaan bayi dalam kondisi baik-baik, masa kehamilan akan memasuki 40 week. Air ketuban makin sedikit, bertahan hanya untuk 1 minggu, ada pengapuran plasenta.

Saran Pak dokter, sebaiknya secepatnya dicesar. Jika dipaksakan buat induksi akan fatal akibatnya, karena posisi kepala bayi belum masuk ke mulut rahim, kalo sampe minggu depan gak ada tanda-tanda melahirkan ya harus segera masuk ke RS. Segera minta persetujuan suami untuk proses persalinannya melalui cesar.

Pukul 21.00 WITA, nelpon suami yang sudah balik ke Pohuwato, memberitahukan hasil diagnosa dokter. Suamiku setuju saja mana yang terbaik menurut dokter.

Tanggal 10 sampai dengan 12 Februari 2016, belum ada tanda-tanda mau melahirkan, seperti sakit dibagian perut sampai panggul. Aku lewati hari-hari seperti biasanya. Jalan pagi, melakukan aktivitas rumah, seperti menyapu dan cari kesibukan lainnya seperti cuap-cuap di Diary ini.

Segini aja dulu ya Diary... Tamat untuk story "Masa Kehamilan Pertamaku". Sebenarnya banyak yang ingin aku ceritakan, namun apalah daya, aku juga masih butuh istirahat.

Terakhir, doakan agar persalinanku lancar dan aman, Aamiin... insyaa Allah. See you next time.

Tradisi Raba-Raba Puru Untuk Kehamilan Anak Pertama di Gorontalo

Memasuki usia tujuh bulan kandunganku, dan sebagai istri yang bersuamikan orang Gorontalo, maka dari pihak keluarga suamiku bersepakat akan melaksanakan ritual adat Gorontalo, yakni acara Molonthalo atau lebih dikenal dengan nama "Raba-raba puru". Sesuai schedulle, acara adat gorontalo ini dilaksanakan tanggal 26 Desember 2015, di kediaman keluarga besar suamiku, Kelurahan Buladu Kecamatan Kota Barat.

Pasti teman-teman penasaran seperti apa acaranya dan bagaimana jalannya prosesi adat Gorontalo ini.

Sebelumnya, kita sharing dulu makna apa sebenarnya yang terkandung dalam ritual adat molonthalo di Gorontalo.

Maksud dan tujuan yang terkandung dari diadakannya ritual adat molonthalo ini adalah sebagai pernyataan dari pihak keluarga suami bahwa kehamilan pertama adalah harapan yang terpenuhi akan kelanjutan keturunan dari perkawinan yang sah. Selain itu juga sebagai pernyataan atau maklumat kepada pihak keluarga suami bahwa sang isteri benar-benar suci ketika belum menikah.

Berarti perlu digarisbawahi ya? Upacara masa kehamilan yang disebut sebagai molonthalo ini diadakan hanya pada saat seorang perempuan mengalami masa kehamilan untuk yang pertama kalinya.



Yang memimpin jalannya ritual molonthalo adalah seorang dukun bayi atau bidan kampung yang biasa disebut Hulango, tentunya dengan berbagai syarat, yakni beragama Islam, mengetahui seluk beluk umur kandungan, mengetahui urut-urutan upacara molonthalo, hafal bacaan-bacaan dalam upacara, dan telah diakui oleh masyarakat setempat sebagai Hulango.

Nah, yang diwajibkan hadir dalam ritual molonthalo ini sesuai syarat adat, yakni kerabat dari pihak suamiku, imam kampung atau Hatibi, (kalo dikampungku dipanggil jiow), dua orang anak (laki-laki dan perempuan) berusia lebih kurang 7-9 tahun yang masih memiliki orang tua, Nur Afni dan Rehan, anaknya Kak Nita. Nih gaya mereka dengan pakaian adat khas Gorontalo… 



Trus apa lagi ya? Oh iya, tiga orang ibu yang dianggap dari keluarga sakinah, 2 dari pasangan keluarga suamiku dan 1 dari keluargaku yang datang dari Kotamobagu, serta warga masyarakat lainnya yang membantu menyiapkan perlengkapan upacara maupun menyaksikan jalannya ritual molonthalo.

Semua peralatan dan perlengkapan yang dipersiapkan dalam ritual molonthalo sangat banyak, dan aku sendiri planga plongo mengikuti semua arahan Hulango dalam proses ritual. Maklum, bukan orang Gorontalo, jadi wajarlah karena acara ini yang pertama aku lihat sekaligus aku rasakan sendiri gimana semua prosesinya. Aku ikuti semua tahapan dari awal sampai akhir, dan Alhamdulillah acaranya berjalan sukses.

Yang tak akan terlupakan dalam prosesi adat Gorontalo ini yakni beberapa tahapannya. Seperti saat aku dibaringkan di atas sebuah tikar putih dengan kepala menghadap ke arah timur dan kaki ke barat. Trus di bagian kepala diletakkan sebuah bantal yang selalu dipegangi oleh seorang ibu. Sedangkan bagian kaki juga dijaga oleh seorang ibu lainnya sambil memegang lututku agar posisinya terlipat ke atas, trus diapit adik Rehan dan Afni di sebelah kiri dan kanan sambil meletakkan tangan tepat di atas ikat pinggang janur berkepala tiga yang aku kenakan.

Lalu, suamiku masuk ke dalam kamar dan melangkahi perutku sebanyak tiga kali. Kaget juga sebenarnya.. hehehe.. Selesai melangkahi perutku, suamiku lalu menghunus keris untuk memotong anyaman silar yang telah disediakan. Potongan anyaman silar tersebut lalu dibawanya keluar mengelilingi rumah sebanyak satu kali, kemudian dibuang agak jauh dari rumah.

Kata hulango maknanya agar cadebayku lahir dengan selamat dan setelah dewasa akan memegang teguh adat, syara’, dan baala sebagai pedoman hidupnya dalam bermasyarakat. Ahh keren juga adat istiadat masyarakat Gorontalo....

Trus moment kedua yang tak akan kulupakan adalah duduk berhadapan dengan suamiku untuk prosesi acara saling menyuapi dengan makanan dalam baki yang terdiri dari nasi bilinthi dan ayam goreng. Katanya prosesi ini sebagai lambang kasih sayang serta adanya hak dan kewajiban dari suami isteri.

Suamiku mengeluarkan telur yang telah dimasukkan dalam perut ayam goreng, dan telur yang telah dikeluarkan dari tubuh ayam goreng tersebut ternyata bermakna agar aku diberi kemudahan saat persalinan nanti. So sweet…

Selesai prosesi saling menyuapi, kemudian membaca doa dan shalawat yang dipimpin oleh hatibi. Kemudian, aku dan suamiku dimandikan oleh hulango dengan air yang telah dicampur dengan berbagai macam bunga dan ramuan.

Pokoknya seru banget dan keren, moment ini tidak akan terulang lagi untuk kedua kalinya di sepanjang hidupku. Ritual adat molonthalo Gorontalo sarat makna yang benar-benar ditujukan pada saat persalinanku nanti dan untuk keselamatan keluarga kecilku. Insyaa Allah, Aamiin…



Selain kerabatku dan kerabat suami, yang hadir dalam prosesi adat molonthalo 7 bulanan usia kandunganku yakni teman-teman suamiku dari komunitas fotografi, Instanusantara Gorontalo. Yang meliput acaranya juga salah satu member instanusantara Gorontalo, jadi gak sabar melihat moment dan semua tahapan molonthalo yang diabadikan lewat foto. Hehe…

Oh iya.. di daerah kalian ada ritual atau prosesi adat 7 bulanan kayak gini ya? Yuuukkk sharing informasinya di kolom komentar atau blog kalian. Di tunggu ya ceritanya…

Sebentar lagi tahun baru 2016. Selamat Tahun Baru aja ya buat kalian semua.. Semoga di tahun baru makin sukses dan apa yang dicita-citakan dapat terwujud. Aamiin....

Masa Kehamilan Pertamaku di Tri Semester Kedua

Alhamdulillah, tri semester pertama kehamilanku, masa-masa penuh rasa mual dan rasa yang tidak mengenakkan lainnya telah kulalui dengan penuh perjuangan. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih tri semester pertama yang telah menemaniku. Terima kasih pula kepada tri semester kedua masa kehamilanku, selamat berpisah karena sebentar lagi sudah mau masuk ke tri semester ketiga kehamilanku.

Karena mau masuk ke tri semester ketiga inilah, saatnya aku menuliskan sedikit pengalamanku pada masa-masa tri semester kedua. Oh iya diary, tri semester keduaku masuk sekitar pertengahan bulan Agustus hingga pertengahan November 2015.


Gak terasa waktunya begitu cepat ya? Sudah mau masuk 7 bulan. Kata teman-temanku, rata-rata ibu hamil merasakan pada tri semester 2 ini adalah masa yang paling menyenangkan. Benarkah? Ternyata survey membuktikan bahwa ini adalah sebuah fakta.

Rasa was-was atau rasa takut akan keguguran karena flek, janin tidak berkembang atau pikiran buruk lainnya di tri semester kedua berangsur-angsur berkurang. Sedikitnya mulai tenang deh, walaupun rasa was-was tetap ada. Karena kata dokter pada bulan keempat janin sudah menempel kuat dirahim.

Menjalani detik demi detik moment kehamilan, selalu membuat dada ini penuh rasa syukur. Syukur atas nikmat kehamilan dan amanah yang Allah berikan. Kehamilan bagiku adalah moment yang istimewa, dimana dalam masa ini aku menjadi semakin bersemangat untuk memperbaiki serta memberdayakan diri dalam banyak hal. Ilmu-ilmu baru yang sebelumnya tidak pernah kau ketahui, mau tidak mau aku pelajari selama menjalani proses kehamilan ini, mulai dari wawasan seputar kehamilan itu sendiri, soal gentle birth, hypnobirthing, sampai seputar ASI-MPASI dan parenting.

Bulan Keempat
Minggu pertama bulan keempat adalah jadwal kontrol kandunganku, aku dan suami amat sangat tidak sabar melihat buah hati kami dari layar USG. Bagi kami melihat perkembangannya melalui layar USG adalah waktu dimana rasa penasaran dan bahagia bercampur menjadi satu.

Maksud hati ingin kontrol kandungan pada Dr. Agus Hasan Sp.Og di wilayah Kota Marisa, namun dokternya lagi berhalangan dan tidak membuka praktek, maka kami putuskan untuk on the way ke Kota Gorontalo pada hari jumat 21 Agustus 2015.

Singkat cerita, setelah tiba di Kota Gorontalo, besoknya kami menuju tempat Praktek Dr. Tonny Doda Sp,OG sesuai rekomendasi teman-teman dan keluarga suamiku, tetapi dia pun tidak membuka praktek, beliau lagi keluar daerah.

Akhirnya kami memutuskan untuk kontrol kandungan ke Dokter Maimun. Dari hasil USG, dokter menyampaikan perkembangan anak kami sangat bagus. Kini jari tangan dan kakinya sudah terbentuk utuh. Dokter juga menemukan alat kelaminnya, tapi suamiku meminta untuk merahasiakannya untuk kami. Cukup dokter dan tuhan saja yang tahu. Karena bagi suamiku, untuk anak pertama ini merupakan anugerah terindah bagi kami. Apapun jenis kelaminnya, yang penting sehat wal'afiat dan selamat sampai saatnya nanti. Insya Allah... Amin.

Karena trimester kedua adalah masa-masa paling aman ibu hamil untuk lebih banyak beraktivitas, dengan alasan disatu sisi janin konon sudah mulai kuat dan pembentukan organ-organ penting di tubuhnya sudah mulai lengkap, dan disisi lain belly bump atau perut belum terlalu besar sehingga masih cukup nyaman untuk diajak berkegiatan. Maka waktu yang tersisa selama berada di Kota Gorontalo aku gunakan untuk jalan-jalan memanjakan diri. Sambil menyelam minum air hehe... Suamiku diawal-awal tri semester kedua ini full memanjakan aku dengan segala keinginanku. Terima kasih suamiku.

Di tri semester kedua, Alhamdulillah mualnya sudah mulai hilang. Aku pun mulai bisa berdandan walaupun jerawat masih betah saja di wajahku yang tetap menghitam. Nonton Mission Imposibble 5 di Studio XXI Gorontalo Mall, intinya menikmati aktivitas menyenangkan yang bisa aku lakukan.


Walau lagi jalan-jalan, aku sempatkan waktu mencari ilmu yang belum pernah kupelajari sebelumnya, terutama mengenai persalinan dan perawatan bayi. Maka aku mengajak suami ke Gramedia Gorontalo. Nyari buku mengenai parenting lah, dan ketemulah dengan buku ini. So, tanpa banyak pertimbangan aku langsung membelinya.


Buku Serba Tahu Kehamilan Persalinan dan Perawatan Bayi karya Diah Hartati menyajikan informasi-informasi penting bagi pasangan suami istri, terlebih yang baru menikah dan mendambakan kehadiran si buah hati.

Bagaimana mendapatkan buah hati yang sehat secara fisik dan mental serta cerdas secara intelektual maupun emosional? Nah, buku inilah yang akan memandu kita mewujudkannya. Di dalam buku ini termuat informasi yang lengkap dari A- Z tentang kehamilan, persalinan, hingga perawatan bayi mulai menyusui, meninabobokan, memandikan, memilih menu makanan, dan seterusnya.

Bagi teman-teman yang sampai detik ini belum dikaruniai buah hati, buku ini pun akan memberi solusi dan tepat bagaimana meningkatkan kesuburan sehingga kehamilan segera didapatkan.

Hal lain yang sering menjadi persoalan tersendiri bagi pasangan suami istri adalah tentang nama yang akan disandangkan kepada sang buah hati. Sebagai orangtua tentu tidak akan memberi nama secara asal-asalan kepada sang buah hati, bukan? Nah, buku ini pun tahu apa yang kita butuhkan. Ratusan rangkaian nama indah dari bermacam negara tersedia pada buku ini. Harganya lumayan murah, gak sampai 50 ribuan dengan 172 halaman.

Bulan Kelima
Di masa kehamilanku, selera makan masih normal walaupun di awal-awal sering mual dan muntah. Di tri semester kedua, selera makanku mulai bertambah bahkan gila-gilaan, begitupula berat badan ini hihi.. Rasanya berat badanku sudah naik sekitar 7 kg selama di tri semester kedua ini. Di tri semester pertama yang hanya berkisar antara 61 – 62 kg, sekarang menjadi 69 kg, pecaaahhhhh…

Dari sebelum nikah, berat badanku hanya mentok di 55 Kg, kalau pun sudah 55 Kg pasti langsung diet ketet. Sekarang keadaan hamil BB sudah 69 Kg. Belum masuk tri semester ketiga lho… kira-kira bisa sampai berapa ya? Ahh biarlah waktu yang akan menjawabnya, yang penting Insya Allah sehat terus sampai bersalin nanti. Amin

Di tri semester kedua, aku tetap rajin mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi. Waktu cek up kehamilan, dokter pun melarang aku mengkonsumsi nasi atau makanan lain yang mengandung karbohidrat terlalu banyak, maka aku pun mengkonsumsi makanan seperti gado-gado gak pake lontong. Oh iya, aku juga paling suka makan es pisang ijo sama martabak coklat kacang... hihihi… Dan yang penting, banyakin minum air putih dan rajin mengkonsumsi Madu.


Selain itu, faktor fisik pun mulai kuperhatikan, seperti rutin jalan pagi. Tempatku untuk jalan pagi biasanya hanya seputaran blok tulip Perum Griya Marisa dan spot favoritku di Anjungan Pantai Pohon Cinta Marisa. Udaranya segar tanpa polusi dengan suasana yang tenang tanpa kebisingan.

Jalan pagi di Pantai Pohon Cinta

Sakit tiba tiba pada betis saat tidur masih aku rasakan di tri semester ini. Entah pengaruh apa rasa sakit dan nyeri tiba-tiba pada daerah otot betis dan otot menjadi tegang, padahal aku tidak melakukan aktivitas berat. Biasanya sakit ini datang diwaktu tengah malam dan sakit banget rasanya.

Bulan Keenam
Tiap jadwal periksa ke dokter rasanya senang banget campur berdebar-debar. Rasanya kayak orang pacaran jarak jauh yang mau ketemuan. Hehehe… Setiap USG, Alhamdulillah, bayiku berkembang sesuai usianya dan InshaAllah sehat terus. Amin.

Aku paling banyak kontrol kandungan pada dokter terdekat di Kota Marisa, dr. Agus Hasan, Sp.OG. Senang banget kontrol sama beliau, karena beliau selalu memberikan informasi-informasi tentang apa yang harus kita lakukan sesuai dengan kondisi kandungan kita.

Si Bayi tendangannya masih malu-malu hehe… “Jangan ragu-ragu nak walaupun tendanganmu kayak si Madun sekalipun gak apa-apa saying, Ibu Ikhlas asalkan kau sehat yahhhh…”. Aku sangat bersyukur dapat merasakan indahnya menjadi calon Ibu. Ketika merasakan tendangan-tendangan kecil si bayi dari dalam perutku, dan kadang tendangannya itu terasa kuat, akan kuusap perutku dengan lembut dan perlahan, seakan mengajaknya bicara dari hati ke hati.

Jika malam tiba aku selalu mengusap perut sambil melantunkan ayat-ayat Al Quran yang pendek-pendek. Aku pun menggunakan Pen Qur’an untuk melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an Surat Yusuf dan Surat Maryam.

Pen Qur'an

Akhir trimester dua tidurku masih nyaman. Tidur miring kiri debaynya ikutan goyang sebelah kiri, tidur miring kanan debay juga ikutan goyang sebelah kanan. Walaupun sudah mau masuk trimester ketiga yang katanya sudah mulai sulit tidur, tapi Alhamdulilah aku masih enteng aja tidurnya. Hanya saja, jika si bayi bergerak kadang suka kaget juga.

Bidan yang di PKM Marisa yang memeriksa kandunganku juga menginformasikan bahwa posisi bayi sudah bagus. Kepalanya sudah kebawah dan bagus untuk persalinan normal. Insya Allah sampai 9 bulan posisinya masih bagus terus biar aku bisa lahiran normal dan lancar.. Minta doanya yahh.. Amin.

Memasuki trimester ketiga fisik sudah gampang capek, hampir tiap malam pasti otot betisku menegang. Mungkin pengaruh dari aktivitasku yang tak memiliki pembantu rumah tangga. Bangun tidur jam 5 beres-beres rumah, bikin sarapan suami, mandi dan pergi ke kantor, jam 8 pagi udah mulai ngantuk, habis makan siang juga ngantuk lagi. Kalau di kantor aku biasanya menggunakan musholla untuk istirahat sekedar meregangkan otot-otot. Pulang kantor Jam 16.30 WITA. Sering tidur awal karena bawaanya jam 8 malam udah ngantuk parah, tapi biasanya juga betah begadang paling tidak sampai jam 12 malam jika keasyikan nonton. Trus tengah malam suka kebangun, entah karena pengen pipis, atau karena kaget dedek bayinya nendang-nendang.

Apalagi ya? Hmmm.. lanjut aja nanti di tri semester ketiga ya? Begitulah kira-kira garis besar apa yang ku alami saat kehamilan trimester dua. Masih ada satu trimester lagi, yang harus dilalui sebelum akhirnya dapat bertemu dengan my baby. Semoga Allah selalu memberi kelancaran dan kesehatan pada kehamilan ini.. Amin…

Dan pada dasarnya setiap ibu hamil memiliki cerita yang berbeda-beda, dan setiap cerita kehamilan itu istimewa. Jadi kalau teman-teman diary mau berbagi cerita kehamilanmu, jangan sungkan sharing di kolom komentar ya??

Madu Marwa, Suplemen Untuk Calon Bayiku

Memasuki minggu terakhir bulan Agustus ini, usia kandunganku mencapai 15 Minggu. Dimasa memasuki kehamilan 4 bulan, kadar emosiku masih stabil tetapi mudah baperan, apalagi ingat mamaku yang jauh di kampung halaman. Hari-hari kujalani dengan aktivitas seperti biasanya, rumah, kantor, layani keperluan suami.

Untunglah rasa mual yang selalu ada di awal-awal kehamilanku cenderung berkurang. Mualnya hanya muncul ketika aku mencium bau-bau aneh saja, terutama parfum yang terlalu wangi.

Gerombolan jerawat masih awet dan kayaknya masih betah berlama-lama diwajahku. Dan yang mengagetkanku adalah berat badanku yang tiba-tiba berubah menjadi 62 kg. Hwaaaa.. Pengen nangis melihat jarum timbangan berat badan...

Yang paling sulit kutepis saat ini adalah ketika aku merasa kangen luar biasa dengan orangtuaku, terutama mamaku. Caraku mengatasinya, biasanya menghabiskan waktu telpon-telponan dengan mama di kampung, memutar Pen Qur'an sambil mengelus-elus si calon debayku atau mengajak suami jalan-jalan.

Tidurku pun Alhamdulilaah masih normal juga, walaupun terkadang kalo kaget jadi susah untuk tidur pulas kembali.

Ehh iya, satu lagi yang sulit kukendalikan. Leher yang gak mau kompromi dengan situasi dan kondisi apapun. Saat ini aku pengen banget makan mangga, tapi di wilayah Kota Marisa sulit mencari buahnya karena gak lagi musim buah mangga.

Badanku sering gatal luar biasa, karena jarang mandi. Jadi ogah-ogahan berdandan, wajah jerawatan, menghitam dan sensitif. Aku pun gak suka melihat cahaya, terutama lampu yang sangat terang. Orang-orang pun mulai menebak jika anak dikandunganku adalah laki-laki. Kata mereka biasanya ketika hamil kalo takut cahaya, jarang mandi, anti minyak wangi pertanda itu anak laki--laki.

Hihihi lucu ya? Aku jadi penasaran apakah ramalan mereka benar apa tidak. Hmmm... Aku dan suamiku sih tidak begitu peduli dengan jenis kelamin anak kami nantinya. Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan sama saja, yang penting sehat wal'afiat. Amin ya Rabb...

Memasuki 3 bulan kedua masa kehamilan ini aku rajin mengkonsumsi makanan-makanan bergizi, terutama suplemen untuk ibu hamil. Salah satunya adalah MADU MARWA Untuk Ibu Hamil.


Madu untuk ibu hamil ini kami beli di Toko Palestina Parfume, Kota Gorontalo, saat check up kandungan pada dokter ahli di Kota Gorontalo. Harganya sekitar 50 ribuan.


Pasti semua sudah mengetahui manfaat dari madu, terutama bagi ibu hamil. Madu kaya akan kandungan gizi mulai dari asam amino, zat gula glukosa dan fruktosa, vitamin, riboflavin, thiamin, asam pantotenat, niasin, asam askorbat, piridoksin, dan kandungan mineral seperti kalsium, kalium, magnesium, natrium, phosphor, zat besi, sulfut, dan mangan.

Selain itu, madu juga dilengkapi dengan keunggulan lain yaitu kandungan antibiotik yang terdapat dalam tiap tetesnya. Itulah kenapa madu menjadi salah satu sumber energi yang sangat dianjurkan untuk ibu hamil.

Madu untuk ibu hamil merupakan suplemen penambah tenaga dan ketahanan diri selama mengandung dan pada saat menjelang masa kelahiran bayi. Manfaat madu bagi ibu hamil dapat mencegah berbagai jenis penyakit mulai dari kelelahan, darah tinggi, kencing manis, kencing kotor, hingga penyakit batuk, selesema, dan bermacam jenis penyakit lainnya. Khasiatnya juga untuk ibu hamil dapat membantu mengurangi rasa mual.



Nah, Madu Marwa untuk ibu hamil adalah madu murni pilihan dipadu dengan bee pollen (serbuk sari bunga) yang dikhususkan untuk ibu yang sedang hamil. Manfaatnya sudah jelas, sebagai suplemen nutrisi bagi ibu hamil, menjaga stamina dan daya tahan tubuh, mendukung pertumbuhan dan kecerdasan calon bayi serta menguatkan kandungan.

1 botolnya berkapasitas 350 gram, dengan aturan pakai 3x2 sendok makan sehari. Suplemen ini yang aku konsumsi setiap pagi sebagai pendamping menu sarapan lainnya.

Tetapi ingat ya ibu-ibu, tidak semua ibu hamil bisa mengkonsumsi madu, jadi sebaiknya konsultasikan dulu pada dokter kandungan sebelum mengkonsumsi madu. Beberapa orang dapat mengalami reaksi alergi setelah mengonsumsi madu, dengan berbagai gejala seperti susah menelan, batuk, asma, gatal-gatal, sesak napas, radang paru, perubahan suara, pembengkakan pada kulit, bersin-bersin, hingga kondisi yang mengancam nyawa.

Pada ibu hamil yang mengalami gangguan perdarahan, madu dapat meningkatkan risiko perdarahan dan waspadai konsumsi madu pada ibu hamil yang sedang mengalami sakit perut, gangguan sistem saraf, serta penyakit jantung.

Intinya, konsultasikan terlebih dahulu penggunaan atau mengkonsumsi apa saja dengan dokter keluarga, termasuk mengkonsumsi madu.

Masa Kehamilan Pertamaku di Tri Semester Pertama

Tiada kata yang mampu kutuliskan saat ini Sobat Diary, kecuali ucapan rasa syukur yang tiada ujungnya. Betapa besar karunia-Mu saat ini Ya Rabb, Tuhanku yang Maha Agung. Selama 3 (tiga) tahun lamanya kami menunggu penuh harap dalam doa dan ikhtiar, dan akhirnya Kau pun menjawab doa kami Ya Allah...

Rabbi habli min ladunka dzurriyatan thayyiban innaka sami'ud du'a

Artinya : "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa"

Masa kehamilan pertamaku ini sungguh diluar prediksi kami. Demi mengabadikan kehamilanku yang pertama ini, aku mencoba membagikan storynya ke teman-teman diary. Karena bagiku, bisa hamil setelah penantian yang cukup panjang itu sesuatu banget. Dan aku percaya, kalau kehamilan tiap orang itu beda-beda. So, aku ingin berbagi saja pengalamanku dikehamilan pertama dan berharap semua bisa mendoakan aku dan bayiku selamat dan sehat wal'afiat sampai saatnya nanti. Amin.


Bulan Pertama
Sebelum kuketahui kalau aku hamil, kujalani hari-hari seperti biasanya. Kemana saja selalu bersama suamiku, ke tempat kerja selalu bersama-sama, hunting foto berdua, ngeblog berdua, seperti pacaran saja. So romantis gitu lho sobat diary...

Program kehamilan seperti saran dokter ahli kandungan kami tak jalani lagi tetapi tetap ikhtiar dan terus berdoa. Hingga di bulan Mei, aku menyadari bahwa aku tak datang bulan lagi. Hati deg-degan, pengen ngetes dengan test pack kehamilan. Tapi takut akan kecewa lagi, seperti kemarin-kemarin. "Aahh.. mungkin saja terlambat haid seperti di bulan-bulan kemarin", batinku saat itu.

Memasuki awal bulan Juni, haidku tak kunjung datang. Aku makin penasaran, tapi rasa penasaranku belum aku ceritakan ke suami. Secara diam-diam aku membeli 2 (dua) buah tes pack kehamilan di apotik. Saat itu suamiku lagi Dinas Luar ke Ibukota Provinsi Gorontalo, dan aku berencana menyusulnya ke Kota Gorontalo sekalian silaturahmi dengan ibu mertua. Rencanaku ini sudah kuutarakan ke suami dan dia akan menungguku di Kampungnya, Kelurahan Buladu, Kota Gorontalo.

Jumat, 5 Juni aku berangkat menuju Kota Gorontalo masih dengan seribu tanda tanya dan rasa penasaran yang ada di benakku. Sebab sebelum on the way ke Kota Gorontalo, aku sempatkan untuk menggunakan test pack kehamilan, hasilnya hanya 1 garis :( sangat mengecewakan pemirsahhhh...

Walau kecewa, sepanjang perjalanan ke Kota Gorontalo pikiranku terus terganggu dengan garis samar yang kedua pada test pack, tetapi hanya tipis sekali dan bahkan tak akan terlihat jika tidak diamati dengan baik. Ditambah lagi dengan sikon yang agak buru-buru, karena saat itu mobil yang aku pesan dengan tujuan Kota Gorontalo sudah menjemput, sehingga aku melihat hasil test packnya sambil lalu. Untung saja, test packnya aku buang di tempat sampah yang ada dalam rumah.

Karena rasa penasaran, ketika dijalan aku sempatkan untuk searching di google bagaimana cara menggunakan tes pack kehamilan dengan benar. Kapan waktu yang tepat untuk menggunakan test pack?

Ternyata sobat diary, penggunaan test pack kehamilan disarankan pada pagi hari saat bangun tidur ketika buang air kecil pertama kali. Nah, baru disini aku udah salah, test packnya aku gunakan sore hari.

Terus kadar hormon kehamilan hCG (human Chorionic Gonadotropin) yang dihasilkan oleh plasenta mulai ada walau masih rendah. Makanya kadang banyak yang test pack tapi samar, kurang jelas bahkan negatif. Walau begitu, ada beberapa orang yang saat bulan pertama diminggu ke-3 dan ke-4 Hari Pertama Haid Terakhir atau HPHT sudah ada yang bisa kedetect test pack. Jadi tiap orang beda-beda ya?

Setelah mengetahui hal ini, timbul lagi optimis dalam diriku yang sebelumnya sempat down. Singkat cerita, malamnya aku tiba di rumah mertuaku di Kelurahan Buladu, aku langsung menceritakan perihal test pack yang sore tadi aku coba, dan berusaha meyakinkan suami bahwa telah ada benih jabang bayi dalam kandunganku.

Suamiku cuek saja acuh tak acuh, mungkin karena dia belum lihat buktinya. Aku coba meyakinkannya bahwa masih ada satu lagi test pack yang tersisa. Dan hasil test pack tadi sore telah ada garis kedua yang masih samar-samar. Tetapi dia menyarankan untuk mengeceknya langsung pada dokter ahli kandungan.

Selama di Kota Gorontalo, kami melupakan sejenak tentang test pack kehamilan ini. Kami nikmati hari dengan jalan-jalan di Kota Gorontalo, nonton Jurassic World di studio XXI Gorontalo Mall, nikmati KFC di Mall Mega Zanur, pokoknya kami habiskan waktu dengan enjoy tanpa ada pikiran stress dan lain sebagainya.

Dan tibalah saatnya kami balik lagi ke Kota Marisa, tempat dimana kami bertugas mengabdikan diri kepada bangsa dan negara, ceeileeehh...

Tiba di Kota Marisa, aku langsung mengambil bekas test pack yang aku pakai sebelum berangkat ke Kota Gorontalo. Ku amati lagi dengan seksama, sepertinya ada garis kedua yang sangat tipis.

Karena belum berasa ada sesuatu dalam rahimku seperti halnya wanita yang hamil pada umumnya, sering mual-mual dan lain sebagainya, aku coba menggunakan tes pack kehamilan lagi untuk mengetesnya. Kupakai cara yang pernah aku baca di google kemarin., dan hasilnya.. sangat mengejutkan....


2 (dua) garis merah tebal keluar seketika tidak lama setelah aku mencelupkan test packnya pada urineku. Aku bahagia bercampur haru, suamiku juga terpana seakan tak percaya. Maka kami putuskan untuk memeriksakan diri ke Dokter kandungan yang terdekat saja di Kota Marisa, yakni dr. Agus Hasan, Sp.OG. Kan cuma mastiin hamil atau tidak hehehe...

15 Juni, 3 (tiga) hari menjelang bulan puasa Ramadhan 1436 H aku periksakan kandungan. Hasilnya dokter belum menemukan ada tanda-tanda kehamilan pada diriku, karena begitu tebalnya dinding rahimku. Tetapi saat itu dokter menyarankan untuk kembali lagi 2 minggu kemudian, yakni tanggal 29 Juni, sembari memberikan resep penguat kandungan dan nasehat tentang hal-hal yang belum boleh aku lakukan di awal masa kehamilan.

Hingga tanggal 29 Juni, aku pun kembali memeriksakan kandungan, dan Alhamdulillah kantung janinnya sudah kelihatan seperti pada foto hasil USG diatas. Dokter Agus: "tuhhh.. kantung janinnya" sambil menunjuk layar monitor USG.

Dokter menginformasikan bahwa kandunganku saat itu berusia 4 minggu, dan memasuki usia 5 minggu. Hmm.. benar apa kata teman-temanku, rata-rata saat bulan pertama kehamilan banyak yang tidak sadar kalau dia lagi hamil, ternyata termasuk aku juga ya? Rasa syukur kami saat itu tidak bisa digambarkan, betapa bahagianya.

Dari dokter kandungan, aku hanya diberi vitamin saja karena memang tidak banyak yang aku rasakan saat kehamilan dibulan pertama. Paling ya itu, perut kembung saja, gejala lainnya belum kelihatan hehehe...

Bulan Kedua
Sejak hamil bawaanku jadi malas mandi dan dandan. Pengen banget mandi trus dandan yang cantik. Tapi apa boleh buat, jangankan mandi pake bedak saja malasnya minta ampun apalagi dengan bau-bauan minyak wangi. Duuuhhhh gak kuat, pasti langsung mual-mual.. Harap maklum yah suamiku...

Masa kehamilan di bulan kedua antara minggu ke-5 hingga ke-9, mual-mual menjadi problem terberatku. Selain itu, wajah dan leherku mulai menghitam plus jerawat yang super banyak. Berat badan pun naik drastis.

Jika mualku kumat, berasa seisi kampung bisa mendengarnya. Saking kuatnya suaraku, suami  sampai panik dan dengan sabar selalu memijit-mijit punggungku sambil berkata, "kalo muntah plang-plang kwa tu suara eeee, aneng pe muntah do' bekeng tako skali kage di birman kira kk so pici di leher pa aneng" (Kalau mau muntah pelankan sedikit suaranya, suaramu sangat menakutkan, jangan sampai dipikir tetangga sebelah aku telah mencekik lehermu). Ada-ada saja...

Walaupun mulai muntah terus-terusan, nafsu makanku gak terlalu berkurang. Jadi asupan gizi untuk si debay tetap terjaga. Bulan kedua kehamilan ini juga pembentukan otak, jadi aku makan makanan bergizi yang mengandung banyak asam folat. Nah, suami membelikan aku Susu Anmum Materna, karena anmum materna terdapat berbagai gizi yang baik bagi kehamilan seperti SA, GA, besi, kalsium serta yang paling tinggi adalah kandungan folatnya.

Anmum merupakan susu yang dikembangkan oleh produsen susu terbesar di dunia yaitu Fontterra New Zelland dan dirancang secara khusus bagi wanita yang tengah hamil atau bagi mereka yang tengah merencanakan kehamilan.


Aku gak terlalu suka rasa susunya. Tapi apa boleh buat, diminum juga walau sedikit dipaksakan. Setiap pagi aku mengkonsumsi susu ini karena gak puasa lagi. Maksud hati ingin menjalankan ibadah puasa ramadhan, namun apalah daya sikon yang tidak memungkinkan. Insya Allah tetap diberikan kesehatan dan umur yang panjang untuk dapat mengganti puasa ramadhan 1436 H.

Bulan kedua masa kehamilanku ini, aku jalani dengan penuh perjuangan melawan rasa mual dan alergi dengan cahaya, terutama lampu yang sangat terang. Sering gak bisa tidur cuman putar sana putar sini gak jelas....

Aku juga sering mengalami sakit tiba tiba pada betis saat tidur. Kalau di daerah Sulawesi Utara dan Gorontalo, orang sering menyebutnya "tikus-tikus" hihihi... lucu ya? Pokoknya aku mengalami rasa sakit dan nyeri tiba-tiba pada daerah otot betis karena otot menjadi tegang.

Hingga seminggu sebelum Hari Raya Idul Fitri 1436 H, kami check up kandungan lagi di Kota Gorontalo, sekaligus minta saran ke dokter apakah diizinkan untuk pulang kampung ke Kota Kotamobagu. Sebab kami ingin merayakan Idul Fitri di kampung halamanku, Kota Kotamobagu, dan perjalanan dari kota Gorontalo ke Kotamobagu membutuhkan waktu 7 hingga 8 jam perjalanan.

Aku hanya khawatir saja, bila perjalanan ini nantinya akan berakibat fatal pada janin di rahimku. Tapi Alhamdulillah dokter mengijinkan dengan syarat tetap menjaga jangan sampai aku kelelahan di perjalanan.

Bulan Ketiga
Pada bulan ketiga masa kehamilan, berat badanku bertambah. Angkanya diberapa? Ahh sudahlah.. Yang pasti diatas 60-an. Tentang hal ini lupakanlah.. :)

Rasa mual muntah dibulan ketiga ini tetap aku nikmati, sebab masih betah menemani hari-hariku. Sama halnya dengan kondisi di bulan kedua, bulan ketiga pun tetap sama, masih malas mandi, malas dandan, muntah jika mencium parfum dan alergi melihat cahaya terang.

Dibulan ini juga, janin mulai peka terhadap sentuhan. Jadi aku mulai mengelus-elus perutku sekedar mengajak si debay ngobrol. Bulan ini juga bulan terakhir cek rutin wajib di tri semester pertama kehamilan. Hasil tesnya alhamdulillah semua baik dan normal tidak ada yang perlu aku khawatirkan.

Bulan ketiga semua organ vital sudah terbentuk sempurna dan janin juga banyak gerakan. Aku pun mulai merasakan kalau aerola PD jadi makin menghitam.Tidak apa-apa, hal itu wajar kok kan nanti buat ASI. Hehe

Walau masih suka mual dan muntah, aku tetap memperhatikan asupan gizi untuk si debay dengan tetap mengkonsumsi susu anmum dan makanan-makanan yang bergizi untuk pertumbuhan, seperti buah-buahan, bubur kacang ijo, dll.


Bulan ketiga ini juga aku sering mengalami pusing secara tiba-tiba, Kejadian paling parah ketika aku mengalami pusing-pusing saat berbelanja di Pasar Tradisional Marisa. Dunia kulihat terasa gelap dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Untung saja saat itu suamiku langsung siaga dan tepat berada di belakangku. Sehingga langsung memelukku dan membawaku menepi. Duduk menenangkan diri hingga 15 menit lamanya dan langsung cus pulang ke rumah gak jadi belanja, hehe...

Check up ke dokter, divonis kekurangan darah dan diberilah aku vitamin penambah darah. Cek kandungan juga untuk melihat perkembangan si debay. Kata Dokter, pada umur ini bayi mulai belajar bernapas yang didapat dari oksigen plasenta melalui tali pusar.

Oh ya, sebagai pasien aku aktif nanya ini nanya itu ke dokter dan ini memang perlu kutanyakan jelas kedokter loh tentang ada tidaknya kelainan pada bayiku. Karena pada bulan ini mulai bisa kedeteksi sindroma pada janin. Alhamdulillah bayinya sehat.

Tentang apa lagi ya di tri semester pertama? Intinya di tri semester pertama ini aku rasakan paling banyak tantangannya, mungkin beda dengan yang dialami oleh teman-teman diary. Tetapi semuanya tetap aku syukuri sebagai nikmat-Nya yang tiada duanya.

Alhamdulilah ya Allah, penantian panjang akhirnya Engkau memberikanku sebuah amanah yang besar untuk bisa merasakan nikmatnya kehamilan. Terima kasih tri semester pertama kehamilanku yang telah setia menemani hari-hariku... Moment ini tak akan kulupakan dalam hidupku.

Welcome tri semester kedua... See u next story...


Komentar Sahabat
Sahabat Diary