Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan

Berita Kematian dan Kecemasan Anak Rantau

Hari itu, di tanggal 12 Januari pukul 21.30 WITA, aku lagi beres-beres rumah setelah seharian beraktivitas di kantor. Handphoneku yang tergeletak di samping kasur, tiba-tiba berbunyi. Mamaku menelepon mengabarkan bahwa papa sesak nafas. Mama meminta aku untuk membujuk papa agar mau dibawa ke Rumah Sakit untuk pasang oksigen.

Memang, sudah lama almarhum Papa sakit namun masih tetap bisa beraktivitas. Sakit yang diderita papa sejak Januari 2023. Almarhum papa sering enggan untuk berobat, selalu dibujuk bahkan dipaksakan untuk rajin kontrol, cek up kesehatan dan meditasi ke dokter ahli. Beruntung ada mamaku yang selalu siap siaga untuk Papa.

Sejak dua bulan yang lalu, sakit Papa semakin parah, sudah susah berjalan sehingga harus berbaring terus di ranjang. Papa sempat aku bawa di salah satu rumah sakit di Manado, tetapi kondisinya semakin memburuk.

Perasaan tidak enak mendadak menyelimuti hatiku. Setelah mama menutup teleponnya, aku langsung menelpon suamiku, yang saat itu masih menyelesaikan pekerjaannya di Kantor. Sambil terisak aku informasikan kalau Papa lagi sesak nafas. Hening. Suamiku mengizinkan aku pulang Kotamobagu. Karena saat itu sudah pukul 22.00 WITA, maka aku putuskan saja untuk berangkat keesokan harinya.

Inilah penyesalan terbesarku hingga saat ini yang selalu menghantuiku. Kenapa aku tidak langsung pulang saja malam itu dengan sewa mobil rental atau naik bis rute Palu - Manado. Kenapa malam itu juga aku tidak segera berangkat pulang ke Kotamobagu, sehingga Papa masih bisa aku lihat untuk terakhir kalinya walaupun sudah tiada, ketimbang yang kudapati hanya tanah pekuburan Papa.

Setelah menelpon Suamiku, suasana hatiku makin tidak tenang. Aku putuskan untuk Video Call dengan Umi Wanti, sepupu mamaku, sebab adikku Pipit sedang tidak berada di rumah dan sedang dinas malam di RSUD Pobundayan. Aku melihat Papa melalui video call-an, tapi karena penyakitnya yang menyerang Pita Suara Papa, makanya Papa gak bisa bercerita, tetapi masih sadar saat itu. Dari raut wajahnya Papa terlihat tegar dan seakan berkata, Papa tidak apa-apa. Saat itu jam menunjukkan pukul 22.49 WITA. Terlihat genangan air mata Papa, bergulir tipis di pipinya yang terlihat makin kurus. Mama menguatkan hatiku dan berkata, "Papa gak apa-apa, insya Allah nanti besok pagi saja pulang Kotamobagu."

Sekitar Pukul 23.30 WITA panggilan Video masuk lagi. Badanku langsung gemetar. Terlihat banyak orang di sekitar kamar Papa. Keadaan Papa terlihat drop. Papa sedang menghadapi Sakaratulmaut. Kaki dan Semua badanku gemetar. Aku syok dengan kondisi seperti ini, apalagi aku masih ada di daerah Rantau.

Melihat keadaan Papa, aku refleks menangis histeris walaupun hanya melalui video call handphone. Terdengar orang-orang di sekitar Papa menyuruh untuk menghentikan Video Call, takut mengganggu Papa yang sementara Sakaratulmaut.

Aku jadi bingung sendiri setelah telepon berakhir. Ditambah suamiku yang tiba-tiba berangkat ke Kota Gorontalo malam itu juga karena ada panggilan dari Kampusnya untuk pertemuan persiapan Ujian akhir pasca sarjana besok hari. Kedua anakku sudah tidur lelap. Aku bergegas ke Kamar mandi, mengambil wudhu, trus Sholat 2 rakaat walaupun aku gak tau itu sholat untuk apa. Pikiranku kosong Ya Allah... Kepada siapa lagi aku mengadu kalo bukan kepada-Mu Ya Allah.

Niatku sholat 2 rakaat, meminta kepada Allah kalau memang sudah waktunya Papa untuk pulang, semoga dimudahkan Sakaratul mautnya, dan masih akan tetap diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Papa walaupun sudah menjadi mayat untuk memeluk dan menciumnya terakhir kali. Tepatnya, Sholat 2 rakaat ini hatiku ingin bernegosiasi dengan Yang Maha Kuasa, Yang Maha mengatur, Allah SWT.

Selesai shalat, aku mengaji walaupun dengan pikiran yang masih kosong. Ya Allah, sungguh berat rasanya cobaan ini. Aku bingung, ingin rasanya malam ini juga segera berangkat ke Kotamobagu, tapi mau naik apa. Sementara suamiku malam itu juga sudah berangkat ke Kota Gorontalo. Mungkin kalau ada Suamiku saat itu, aku gak sepanik dan setegang ini.

Malam itu aku gak bisa tidur. Tepat pukul 03.00 Dini hari di tanggal 13 Januari 2024, panggilan Video Call dari sepupuku masuk lagi. Aku sudah gak kuat melihat kondisi Papa saat itu. Dengan suara gemetar karena menangis, aku informasikan ke saudara sepupuku, Caca dan Papa Afliya (Ka Tito) untuk membisikkan ke telinga Papa, kalau sudah mau pergi gak perlu menunggu aku pulang ke Kotamobagu. Aku sudah ikhlas Papa pergi untuk selamanya.

Ya Allah, tak ada yang dapat menggambarkan suasana hatiku saat itu. Air mataku bergulir lincah di kedua pipiku, tak bisa dibendung.

Panggilan telepon video call dan informasi di WA Group keluarga tak henti-hentinya masuk. Disaat mendekati ajalnya, Video Call dari Caca masuk lagi. Ia berkata lirih menahan sendu, "Madam... yang kuat neh, tahan itu tangisan....

Terlihat Papa menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya, sambil mengangkat tangannya seperti ber-Takbiratul Ihram, dan mendekapkan tangannya diatas dada. Berlalu dalam kesunyian dan meninggalkan perasaan sesak bagi keluarga yang ditinggalkan. Ya Allah, Tugas Papa sudah selesai tepat 1 Rajab 1445 H. Selesai Adzan Subuh, Papaku berpulang ke Rahmatullah. "Ya Allah, ini adalah (saat) datangnya siang-Mu, dan perginya malam-Mu, dan terdengarnya doa-doa untuk-Mu, maka ampunilah Aku, ampunilah Papaku"

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Allahummaghfir Lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Aa’fu ‘anhu Wa Akrim Nuzulahu Wa Wassi’ Madkhalahu, Waghsilhu Bil Maa i Wats-tsalji Walbarodi Wa Naqqihii Minal khathaa Ya Kamaa Yunaqqats-Tsawbul Abyadhu Minad Danas.

Papa sudah tidak sakit lagi, itu kata-kataku yang terakhir saat melihat Papa menghenbuskan nafas terakhir. Penyesalan tersebarku sepanjang hidupku yang akan menghantui nanti, Papa selalu ada untukku, tapi disaat kepergiannya Aku tidak ada di samping Papa. Tangisanku pecah di kesunyian malam.

Papa yang selalu memberikan nasehat untukku sejak berumah tangga. Papa yang menasehatiku untuk segera cepat-cepat urus pindah tugas setelah menikah, untuk mengikuti suami yang bertugas di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Papa yang sangat ikhlas melepaskanku tanpa ragu bahkan menyemangatiku ikut bersama Suami merantau. Aku masih ingat, Papa berkata saat itu, "Iko pa Ipul neng, cepat-cepat urus itu pindah supaya ngana pe Rumah Tangga mo nonoy"

Papa selalu ada untukku, tapi saat kepergiannya, aku gak berada disampingnya. Papa orang yang gak pernah selalu mengutarakan rindunya padaku, tetapi sangat kurasakan kerinduan Papa. Papa hanya selalu bertanya ke Mama, "Ndaa dia' pa doman mo bui adi?!" Beda dengan Mamaku, setiap menelpon selalu bilang, "Neng eee Mama' mokotanob..". Ya Allah, anak macam apa aku ini?

Moment yang paling menyakitkan dalam hidupku. Semua proses dari papa menghembuskan nafas terakhir hingga penguburannya hanya aku saksikan melalui Video Call, sepanjang perjalanan dari Pohuwato ke Kotamobagu yang ditempuh selama 11 Jam perjalanan. Sepanjang jalan aku terus menangis dan muntah-muntah gak enak badan. Ya Allah monakit dodob aaaaa...

Subuh itu, hatiku patah tak bertepi, cinta pertamaku telah pergi untuk selamanya. Setiap mendengarkan Adzan subuh, air mataku langsung mengalir deras. Kejadian subuh di tanggal 13 Januari 2024 akan membekas selamanya dalam hari-hariku. Semakin lama bukan semakin berkurang, justru semakin menyesakkan dada.

Semua manusia menyadari bahwa yang namanya kematian adalah hal yang pasti bahkan jauh lebih pasti dari kemungkinan tidak jatuhnya makanan yang hendak disuap ke dalam mulut. Setelah itu, semua ambisi berakhir begitu saja dan meluluhlantakkan harapan-harapan yang selama ini diidam-idamkan. Mungkin itulah hikmah dibalik petuah bahwa kematian adalah pengingat terbaik bagi manusia.

Sejak tahun 2015 merantau, momen demi momen mendengar berita duka dari kampung halaman itu lebih menyengsarakan daripada cerita kehidupan di tanah rantau. Berita kematian menjadi semacam ilusi yang selalu meneror setiap kali hendak memejamkan mata. Satu hal yang langsung terlintas di kepala ketika melangkah untuk pertama kalinya merantau adalah kekhawatiran keluarga yang ditinggalkan. Selalu muncul bayang-bayang ketakutan akan hal-hal yang tidak diinginkan. Tentang suara Mama yang semakin parau dan bahu Papa yang semakin rapuh.

Momen yang paling dibenci di perantauan ketika ada telepon dari kampung di tengah malam. Telepon yang tidak diangkat namun tidak berhenti berdering. Pada momen itu, pikiran pertama yang muncul adalah tentang sanak keluarga di kampung halaman.

Serpihan kenangan masa lalu sama sekali tidak bisa digantikan dengan apa pun yang sudah dimiliki saat ini. Kenangan adalah harta yang sewaktu-waktu harus dijenguk. Hidup ini absurd bukan? Karena ketika selalu rindu kampung halaman, kenapa harus bersusah payah merantau? Apakah dengan alasan itu, orang-orang akan berhenti merantau dan memilih untuk menikmati hidup di kampung halaman.

Tidak, sama sekali tidak. Aku yakin Tuhan yang Maha Agung telah menuliskan semua perjalanan hidupku, hari ini dan esok walau tanpa Papa.

Papa dimakamkan sekitar pukul 14.30 WITA sebelum sholat Ashar.

@nayaschatzi

Alfatehah Pa' 😔😥

♬ suara asli - Yana Mokoagow
Pa' Mokotanob aaa.. Papa so sehat, so nda saki lagi. Papa so liya aneng, Abo pe papa, abo deng arkana so datang toh?? tapi torang so nda baku dapa.. Papa nyanda marah aneng nda dpa riki pa papa? Aneng minta Maaf pa' aaa.. papa tau kalo so tengah malam aneng slalu rinduuu skaliii pa papa.. Neng pe maksud, torang ada datang bukan di moment begini... Pa' eeee dia' bi' nokokuyang kon gina sin akuoy nokodongog bi' ki Papa'

Cinta Pertamaku Telah Pergi Untuk Selamanya

Tahun 2024 adalah tahun ujian terberat bagiku. di saat aku di daerah rantau, disela-sela persiapan adikku Pipit masuk ujian Proposal, Ujian akhir dan persiapan pembayaran SPP terakhirnya, trus persiapan anakku yang kedua Arkana masuk Sekolah Dasar, tiba-tiba aku mendapat kabar Duka yang sangat mendalam.

Tanggal 13 Januari 2024, bertepatan dengan tanggal 1 Rajab 1445 Hijriyah, Tuhan memanggil papa...

Papa pergi saat aku masih berada di daerah rantau, Pohuwato. Semua prosesi, mulai dari detik-detik terakhir papa sampai dengan pemakaman papa aku saksikan hanya melalui Video Call dan informasi-informasi di WA Group Keluarga. Sepanjang jalan aku terisak dan mata sembab, sungguh aku tak merasakan apa-apa. Datar. Nyaris tanpa impresi, betapa hancur hati ini.

Hingga aku tiba di Kotamobagu pukul 17.00 WITA, yang kutemui hanyalah tanah pekuburan. Di makam aku hanya diam. Tidak ada yang ingin kutanyakan, tidak ada yang ingin kudengarkan. Tanah terasa lembap di bawah jemariku. Dingin.

Papa tidak merasakan sakit lagi, tidurlah yang tenang dalam tidur panjangmu papa...

Allahummaghfir Lahu Warhamhu Wa ‘Aafihi Aa’fu ‘anhu Wa Akrim Nuzulahu Wa Wassi’ Madkhalahu, Waghsilhu Bil Maa i Wats-tsalji Walbarodi Wa Naqqihii Minal khathaa Ya Kamaa Yunaqqats-Tsawbul Abyadhu Minad Danas.

Wa Abdilhu Daaran khairan Min Daarihii Wa Ahlan Khairan Min Ahlihii Wa Zawjan Khairan Min Zawjihi, Wa Adkhilhul Jannata Wa A ‘Idzhu Min ‘Adzaabil Qobri Wa Fitnatihi Wa Min ‘Adzaabin Naar.

Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah, bebaskanlah, lepaskanlah dia. Dan muliakanlah dia di tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih dan sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan dan dosa seperti baju putih yang bersih dari kotoran.

Dan gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga-Mu, dan lindungilah dia dari siksa kubur serta fitnahnya, dan siksa api neraka.

Selamat jalan pa, Terima kasih sudah jadi ayah yang baik bagi Aneng selama ini. Maaf, Aneng nggak pernah mengutarakan cinta ke papa lewat kata-kata, tapi dalam lubuk hati engkaulah laki-laki terbaik yang pernah Aneng miliki. Terima kasih sudah menjadi orang paling berharga bagi Aneng.

Papa adalah cinta pertama dan laki-laki yang selalu nomor satu bagi Aneng. Tidak peduli sudah punya pasangan, papa tetap berada di peringkat itu di hati Aneng. Karena dari papa Aneng belajar banyak tentang kepemimpinan papa yang tidak harus keras namun harus tegas, tidak perlu kekerasan hanya perlu nasihat, tidak harus mahal yang penting nyaman, tidak harus sempurna yang penting ada.


Ya Allah, Setelah mengalami seperti apa dalamnya Kedukaan, aku sampai pada kesimpulan bahwa tak ada satupun buku yang dapat menggambarkan Kedukaan dengan sempurna. Begitu besarnya duka sehingga kita hanya bisa mengutip sebagiannya saja. Bahkan sebagiannya itu tak mudah menerjemahkannya dengan tepat menjadi kata-kata. Namun saat kamu merasakannya, kamu akan paham dengan sendirinya.

@nayaschatzi 01 Rajab 1445 Hijriyah Pa' apa kbr skrg?? papa so sehat kang so nda saki lagi 🥺 Papa so lia aneng, papa abo, abo dg arkana so dtg toh?? Tp trg so nda bkudpa.. papa nyanda marah aneng nda dpa rki p papa? 😭😭 aneng minta Maaf pa' aaa.. papa tau kalo so tenga mlam bgni aneng rinduuu skaliii p papa.. Neng p mksd trg ada dtg bkg di moment bgni 🥺🥺 Pa' eeee dia' bi' nokokuyang kon gina sin akuoy nokodongog bi' ki Papa' 😭 #rapuh🥺🥺 ♬ suara asli - Yana Mokoagow

Selamat Tahun Baru Diary, Ini Resolusi Kecilku di Tahun 2019

Tak terasa udah tahun 2019 ya? 12 tahun aku bersama diaryku, hmm.. cukup lama juga, walaupun semuanya gak terekam disini, namun diary ini sedikitnya menjadi penawar rindu pada masa-masa laluku.

Selama 12 tahun bersama Diary, ternyata kusadari tak banyak yang aku ketahui tentang blog selain menulis "acak-acakan", upload foto di blog lalu publish, kemudian blogwalking ke blog teman-teman.

Mengenai fitur dan segala "tetek bengek" di diary yang berplatform blogspot ini, sepenuhnya dibawah kendali dan kreatifitas suamiku tercinta. Tema pink blog ini, koding entah apalah namanya, maintenance, dan lain-lain sebagainya, suamiku yang berperan disini....


Ahhh.. jadi ngelantur.. katanya mau cerita resolusi, malah jadi cerita gono gini gak penting. Ok sip, kembali ke judul ya?

Bila ditanya orang mengenai harapanku di tahun 2019 ini, kayaknya aku masih bingung juga, dan pasti akan mengatakan tidak tahu, atau belum dipikirkan, atau belum terbayang...

Mengalir sajakah tanpa ada planning? Kalo teman-teman apa jawabannya? Jawaban tidak tahu, belum dipikirkan, belum terbayang, itu jawaban normatif. Tetapi menjadikan Anda orang yang selalu ragu dan tidak mempunyai terobosan untuk menjadi lebih baik.

Terkadang dipikiranku sering merasa harus mencambuk diri sendiri untuk bekerja lebih dari pencapaian tahun kemarin yang biasa-biasa saja. Misal, katakanlah aku seorang blogger, jadi aku harus pastikan lebih banyak menulis lagi agar semakin banyak kenangan yang tersimpan di diary ini dan siapa tahu dilirik oleh seorang sutradara dan akan dijadikan sebuah film, hihihi.. namanya juga resolusi. Ahh.. gak gitu juga kali ya?

Setiap orang selalu berharap lebih baik. Resolusi harus diingat sebagai pemicu semangat agar paling tidak ada yang mampu diwujudkan. Jika resolusi tidak pernah terwujud karena tidak ada aksi, tidak ada usaha keras untuk menggapainya namanya hanya berkhayal. Percuma buang - buang waktu untuk berkhayal kalau hanya merajut mimpi- mimpi tetapi tidak pernah bisa mewujudkannya. Resolusi harus dikejar untuk mendorong semangat agar tercapai target yang semula tercatat sebagai deretan harapan dan akhirnya bisa terlaksana karena ada aksi dan ada usaha keras untuk menggapainya. Iya gak?

Resolusiku di tahun 2019 cukup sederhana saja.

Yang pertama dan yang utama, akan menjadi ibu yang lebih baik lagi bagi anak-anakku dan istri yang lebih baik lagi bagi suamiku. Terkadang aku suka marah-marah gak jelas pada mereka hanya karena terlalu capek dengan rutinitas di kantor. Insya Allah bisa menjadi Ibu dan Istri yang lebih baik lagi, lebih sabar lagi.... Aaamiiinnn ya Robb.. Aku ingin jadi tipe ibu seperti ini bagi anak-anakku.



Resolusiku yang kedua, akan mengurangi aktifitas di Media Sosial, utamanya facebook dan akan lebih aktif lagi ngeblog. Nah ini yang paling sulit kayaknya. Hidup tanpa medsos bagaikan makan tanpa lauk, hehe..

Suamiku pernah berkata, daripada main facebook, instagram, twitter mending ngeblog saja biar bisa nambah penghasilan. Boleh main medsos, asalkan posting hal-hal yang bermanfaat, misal jualan online atau jadikan medsos sebagai tempat sharing postingan blog daripada membuat status-status gak penting.

Yang terakhir, jika tahun 2018 masih suka dan sering mengeluh dan sering alpa dalam beribadah, Insya Allah ditahun 2019 ini bisa lebih banyak mengucap syukur dan lebih rajin dalam beribadah. Terkadang aku berpikir, di 2018 kemarin bahkan di tahun-tahun sebelumnya, aku terlalu sering mengabaikan salat 5 waktu, karena kesibukan kantor :(

Segini aja tulisanku di awal 2019 ya? Resolusiku gak banyak-banyak. Cukup dengan 3 (tiga) resolusi ini, semoga 2019 akan lebih baik lagi buatku dan keluarga kecilku. Amin ya Rabb...

Resolusi teman-teman apa? Yuk sharing di komentar....







Finally, Move on Dari Kos-Kosan, Story Pindah Rumah

Assalamu’alaikum Sobat Diary, sebelumnya aku ucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijah 1438 Hijriah yang jatuh tepat di tanggal 1 September 2017 Masehi kemarin, bagi teman-teman dan pengunjung blog yang merayakannya.

Story kali ini tentang Move On dari tempat tinggal lama ke tempat tinggal yang baru. Kamis, 31 Agustus 2017, akhirnya aku dan suamiku resmi “Graduate from old place, and start in new place”. Setelah kami hidup secara Nomaden, dari ngekos pindah ke rumah kontrakan dan ngekos lagi, trus pindah rumah lagi, aku belajar banyak hal, terutama soal memantapkan diri untuk bisa hidup lebih mandiri di tempat sendiri.

Pindah rumah tentu menjadi sebuah tantangan, apalagi anak rantau seperti aku dan suamiku yang kesehariannya sudah terbiasa tinggal di kos-kosan dari sejak menikah di tahun 2012.

Sebelum lanjut, aku flashback storynya ke belakang, di tahun-tahun kemarin ya?

Sebenarnya sejak sebelum menikah yakni di tahun 2010, suamiku sudah kontrak KPR (Kredit Kepemilikan Rumah) di salah satu kawasan perumahan yang ada di Kabupaten Pohuwato, yakni di Perum Graha Delima Ertiga, yang terletak di Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato.

Sebagai anak rantau, kami sebenarnya tidak berencana tinggal lama di tempat tugas ini. Jadi pilihan kami saat itu masih bimbang, mau lanjut atau tidak, mau menetap atau tidak. Makanya suamiku enggan membuat rumah tetap untuk kami tinggali di Kabupaten Pohuwato. Padahal uang muka yang telah disetor ke Developer lumayan besar lho, yakni 40.000.000, dan suamiku belum pada proses penandatanganan kontrak.

Mungkin rasa bimbang ini yang membuat kami terlihat tak serius mengurus KPR oleh Developer perumahan. Padahal kalo dipikir-pikir, Rumah ini sudah selesai dan kurangnya di pengerjaan finishing bagian belakang termasuk ke pengecatan rumah. Secara garis besar, rumah sudah bisa ditinggali.

Singkat cerita, Awal April 2017, masa kontrak rumah yang kami tinggali sudah habis. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya kami putuskan untuk tinggal saja di Perum Graha Delima Ertiga. Jadi kalau memang tidak akan menetap lama di Pohuwato, bisa jadi rumah itu akan kami jual kembali. Kenapa tidak berpikir begini dari dulu ya?

Sambil menghubungi pihak developer lagi, kami memilih untuk tinggal di Kos CITRA MANDIRI. Di Tanggal 10 April 2017, packing-packing pindah tempat tinggal lagi. Suamiku langsung menghubungi pihak developer untuk melanjutkan proses yang sempat tertunda kemarin, sebab Uang Muka perumahan sudah di tangan Developer perumahan sejak tahun 2010.

Bak petir di siang bolong, kabar tak mengenakkan kami terima dari pihak developer. Rumah yang telah dibangun atas nama suamiku telah dijual secara sepihak kepada orang lain tanpa pemberitahun dan persetujuan dari suamiku. Sontak, aku tak terima dan langsung menyambangi pihak developer ke Kantor mereka.

Setelah diskusi panjang lebar, pihak developer meminta maaf telah melakukan penjualan rumah yang telah dibangun atas nama suamiku secara sepihak. Mau bawa ke jalur hukum, rasanya sulit karena kami tidak memiliki dokumen bukti perjanjian pembangunan rumah itu atas nama suamiku. Bukti yang ada hanya kwitansi setoran sebesar 40.000.000.

Saat itu, Pihak developer memberikan 2 pilihan. Mereka menjanjikan akan mencarikan lahan baru untuk dibangunkan rumah, dan yang kedua bersedia mengembalikan semua biaya yang telah disetor jika tak berminat lagi melanjutkan kontrak. Suamiku legowo memilih opsi pertama, tapi Aku yang terlanjur kecewa dengan Developer yang memutuskan sesuatu tanpa pemberitahun ke kami memilih pilihan kedua.

Suamiku pasrah menyerahkan semua keputusan ini padaku. Mana yang terbaik, katanya singkat. Maka aku bulatkan menarik semua dana dari Developer dan mencari rumah dengan status DIJUAL.

Finally, kami ngekos di Citra Mandiri sejak April dan berencana menetap hingga bulan Desember 2017 sambil menunggu perkembangan info dari Developer Perumahan dan info penjualan rumah yang ada di Kota Marisa.

Beruntungnya, awal Agustus 2017, teman suamiku yang kerja di Inspektorat Daerah menginformasikan kalau ada rumah yang mau dijual terletak di Kawasan Perumahan Griya Marisa Indah, Kawasan Perkantoran Marisa. Type 36, Harganya lumayan, dengan catatan lanjut setoran tiap bulan sesuai kontrak developer dengan pemilik awal.

Kami lakukan survey awal sebelum membelinya. Karena survey sebelum membeli rumah adalah hal yang paling penting dilakukan. Kebetulan rumah yang kami beli sangat dekat dengan kawasan perkantoran. Berjalan kaki pun bisa... hehe.. Makanya aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, langsung pengen beli dan menetap di rumah itu.

Secara keseluruhan, rumah ini layak untuk ditinggali. Tipe 36 terdapat 2 Kamar Tidur, 1 kamar mandi, ada Lahan kosong bagian belakang, halaman depan rumah yang luas. Letaknya di Perum Griya Marisa Blok Melati No. 6.


Setelah berkomunikasi, tawar menawar dengan pemilik rumah, akhirnya kami deal dan bersepakat untuk membeli rumah tersebut. Harganya berapa? Rahasia dong... hehe.. Suamiku langsung mengurus semua persiapan dokumen jual beli rumah, kwitansi pembelian dan lain-lain. Otomatis, Rencana kami mau tinggal di Kos Citra Mandiri hingga bulan Desember 2017 sampai dengan Bulan Desember akhirnya dibatalkan.

Nah, sebelum Hari Raya Idul Idul Adha kemarin, tepatnya tanggal 31 Agustus 2017, kami resmi pindah ke Rumah yang telah menjadi milik sendiri. Kebetulan kami hanya bertiga, Aku, suami dan si kecil Azka yang masih berusia 1 tahun. Saat pindah perabot, suami minta bantuan sepupu laki-lakinya untuk bantu mengangkat perabot menggunakan mobil pick-up nya. Beruntungnya juga ada Baai dan Aki Azka (ayah dan ibuku), datang dari Upai untuk membantu kami membenahi rumah dan packing-packing barang.


Intinya, Proses pindahan rumah ini cukup menguras tenaga. Harus ada planning dan pemilahan barang sesuai ukuran, penggunaan dan media pemindahan. Tapi, Alhamdulillah semua beres tanpa ada kendala apapun. Aku, si Kecil Azka dan suamiku merayakan Lebaran Idul Adha pertama di rumah sendiri, ditemani orang tuaku.

Nih, Si kecil Azka mulai beradaptasi dengan lingkungannya yang baru, main di jalan kawasan perum bersama sepupunya, si Arif anak dari adiknya Suamiku.


Terima kasih orang-orang baik yang telah membantu kami...
Terima kasih Baai dan Aki Azka...


Semoga kalian sehat slalu.. Aamiin.. Udah ya teman-teman Diary. See You Next Story

Perkembangan Sosial Emosional Anakku di Usia 14 Bulan



Diusianya yang ke 14 bulan ini, Azka sudah mulai biasa berinteraksi dengan anak-anak lain seusianya, bahkan yang lebih tua darinya. Dia mulai minat dengan bayi lain, bermain bersama kendati masih bersifat individual.

Alhamdulillah seiring dengan kemandiriannya pada perkembangan di usianya ke 14 bulan, aku sering mengajarkan azka bagaimana mengontrol kestabilan emosinya, misalnya dengan berbagi mainan bersama teman sebayanya. Mulai diajarkan bertanggung jawab dan mengendalikan perasaannya.



Terkadang Azka sering langsung menjambak rambut anak bayi yang lain. Trus dia paling suka menusuk mata teman bermainnya. Hal ini yang aku takutkan jika azka berbaur dengan anak seusianya. Terlalu agresif dan terkesan mengintimidasi. Takutnya bisa mencederai anak yang lain.

Mungkin pengaruh dari rasa ingin tahunya yang terlalu tinggi, sehingga Azka terlihat seperti mengganggu anak lain.



Aku sebagai orang tua selalu mengawasi setiap pergerakannya, mencegahnya secara baik-baik. Bukan dengan cara membentak dan meresponnya mendadak secara kasar, melainkan diberitahukan dan dibimbing. Karena diusia ini mereka rentan memperhatikan tingkah laku orang-orang dewasa dengan bersungguh-sungguh dan meniru tindakan tersebut dan secara alamiah bayi memiliki kemampuan menyimpan informasi yang berasal dari penglihatan, pendengaran, dan melalui indera lainnya. Jangan sampai akan mempengaruhi jiwa sosial mereka.

Bukan hanya meniru tingkah laku orang dewasa, Azka pun sudah mampu merespon melalui ocehan yang kebanyakan berupa permintaan, perintah, dan kata-kata singkat seakan dia sudah bisa bercakap-cakap.

Sobat Diary, melihat perkembangan anak kita tentu saja sangat menyenangkan bukan? Lucu, menggemaskan dan terkadang menyebalkan jika yang kita larang serasa diacuhkan. Dengan kesabaran dan ketelatenan, insya Allah anak kita akan terus berkembang sesuai dengan tahapannya.

Alhamdulillah, Azka Genap 14 Bulan



Hari ini, Sabtu 15 April 2017, usia Azka genap 14 bulan. Pada usia ini banyak perkembangan yang ditunjukkan anakku. Di fase antara 13 hingga 14 bulan Azka semakin pintar dan lucu, makin menggemaskan.

Pada usia 14 bulan ini, Azka mulai dikenalkan lagi dengan Sufor (Susu Formula), susu pendamping ASI. Selama ini, Azka gak mau minum Sufor. Maunya ASI doang, air mineral dan teh hangat. Entah kenapa jika disodorkan 2 pilihan antara Air Mineral (Aqua) sama Sufor, Azka lebih memilih mengambil Air Mineral dari pada Sufor.

Pernah pada pertengahan usianya ke 13 Bulan, Akza sakit, matanya merah dan banyak tayi matanya. Orang Gorontalo menyebutnya 'Mata Pete' hehe.. Dibawalah Azka ke Puskesmas Marisa, hasil Diagnosa dokter bahwa Azka mengalami mata merah dan perih disertai dengan gejala-gejala pilek, kata dokter besar kemungkinan mengalami serangan virus penyebab pilek.

Nah, Saat Azka dibawa ke Puskesmas, Suamiku menyarankan untuk menyiapkan segelas teh hangat pada botol minumannya. Prediksi suamiku gak meleset. Azka mulai rewel saat antrian dan ruang Laktasi di Puskesmas ada di bagian belakang, sementara ruang pemeriksaan berada paling depan. Aku keluarkan saja dotnya yang berisi teh hangat, dan Azka mulai santai menikmati teh hangatnya. Bayangin ketika itu aku isi botolnya dengan Sufor. Pasti rewelnya menjadi-jadi.

Makanya di usia ke 14 bulan, Azka dibiasakan lagi dengan Susu fomrula.



Nih beberapa perkembangan yang ditunjukkan Azka saat usia 14 Bulan serta tips kami sebagai orang tua untuk membimbingnya :

1. Azka mulai menunjukkan rasa dan emosinya, seperti rasa tidak suka dengan cara menggeleng-gelengkan kepalanya, Enggan melakukan sesuatu dengan cara menepiskan tangannya jika diajak. Emosi lainnya ditunjukkan dengan cara berteriak jika tidak suka dan tersenyum lebar jika dia menyukai sesuatu.

Udah tau ngambek dan membujuk. Ngambek dengan cara menangis berguling-guling atau membelakangi aku dan membujuk dengan cara memeluk serta mencium ayah dan bundanya. Ahh lucunya.

Sebagai orang tua, tentunya kami tidak serta merta mau dan mengikuti semua keinginannya. Kami biasakan dia dengan membedakan mana yang boleh dan mana yang gak boleh untuk anak seusia dia dengan gaya dan bahasanya. Ini pun untuk membentuk pribadinya biar bisa mandiri dan menerima apa adanya.

2. Semakin cerewet dan ceplas ceplos. Walau gak jelas apa yg dikatakan tapi terdengar sangat lucu, apalagi kalau bangun pagi, pasti langsung mengoceh dan seperti berdendang. Hahaha... Apabila dia dikenalkan pada objek yang baru dan menarik buatnya, pasti akan dikejarnya sekuat tenaga sambil mengoceh.

Kata-kata yang sering diucapkan : "Piyapaaa.. pila pila pilaaa paa.. tatata.. taaaa.. papa.. papaaa paaa..." Kalau sedang berdendang akan panjang diucapkan dengan irama khasnya, "piyaaaaaaaaaaaa.. piyaaaaa... piyaaaa paaa paaaaa"

Gak ada bedanya ketika dia mulai ngoceh pada usia 7 bulan, tapi intensnya yang mulai bertambah. Sebagai orang tua kami mengimbanginya dengan bersuara secara normal, agar dia mengerti apa yang ingin kami utarakan. Sesekali saja kami berbicara dengan bahasanya, selebihnya berkomunikasi dengan bahasa normal.

Jangan pernah MEMBENTAK atau MENGANCAM anak dengan bahasa atau gaya dan ekspresi kita. Karena secara alamiah mereka telah mengerti jika dimarahi.

Pernah, secara tak sengaja aku memarahinya dengan suara agak keras.. Dan Azka menangis memeluk ke ayahnya. Suamiku marah saat itu, dan mengingatkan untuk tidak melakukannya lagi. Saat itu, aku mulai melakukan pendekatan secara persuasif serta membimbingnya jika ingin melarangnya melakukan sesuatu yang tidak diinginkan.

3. Sudah bisa berkomunikasi dengan anak seusianya, bersosialisasi dengan bermain bersama. Alhamdulillah, Baby Sitternya Azka punya anak laki-laki berusia 6 tahun, sehingga Azka merasa ada temannya untuk bermain dan berbicara.

Tetangga sebelah kamar di kost ku yang baru juga punya anak balita seusia Azka, 15 bulan. Ditambah adik suamiku yang bertugas di Marisa juga punya anak usia 20 bulan. Jadi Azka gak pernah kesepian bersosialisasi dengan nyaman bersama teman sebayanya.



4. Walau belum bisa berjalan lancar, tapi jarak azka melangkahkan kakinya udah lumayan panjang. Udah bisa jongkok, udah bisa berdiri dengan sendi lutut. Tapi belum berani berdiri sendiri tanpa bantuan media dan benda lainnya. Hebatnya lagi dia mulai mencoba memanjat dan menaiki tempat tidur. Naik dan turun bolak-balik. Azka sebenarnya sudah mampu berjalan lancar, namun kepercayaan dirinya yang belum ada, sehingga kami terus membimbingnya untuk melangkahkan kakinya dengan baik dan benar.

5. Mulai suka untuk makan sendiri dan belajar memegang sendok. Aku biarkan saja walaupun terkadang akan mengotori lantai, pakaiannya, maupun meja makan.

6. Udah pintar mengadu. Jika ditanyakan luka dibagian tubuhnya dia pasti akan tunjukkan bekas luka-luka kecil gigitan nyamuk. Trus jika kepalanya terbentur, dia akan menunjukan bagian yang terbentur di kepalanya. Waduhh.. lucu banget deh...

Mmmhhh apa lagi ya? Yang jelas Azka udah mulai cerdik, pintar dan punya rasa empati yang mulai peka. 

Makanannya diusia ke-14 bulan ini sudah lebih bervariasi, kadang apa yang kami makan, Azka juga pengen mencicipinya. Saat ini aku sering memasak makanan yang sama dengan dua versi, yakni versi pedas dan versi non pedas hehehe...

Memberinya asupan buah tetap menjadi rutinitasku. Tiada hari tanpa buah. Alhamdulillah Azka hingga saat ini tidak terbiasa mengkonsumsi makanan instan dan cemilan-cemilan yang banyak bahan pengawetnya. Suamiku membiasakannya dengan makanan yang natural. Untuk usianya 14 bulan ini berat badannya 11 kg.

Pengen Liburan di Kampung Halaman



Lama rasanya gak pulang ke Kampung Halaman. Seingatku, terakhir pulang ke Kota kelahiranku Kotamobagu pada Hari Raya Idul Adha tahun 2016 kemarin. Udah lama ya... kangen dengan suasana kampung :(

Tapi ketemu dengan orang tuaku barusan 3 bulan kemarin, menjelang tahun baru 2017, saat itu ortuku datang ke Kota Marisa karena kangen dengan cucu mereka. Hanya seminggu disini. Papa, Mama, adikku Pipiet pun bermalam tahun baru 2017 di Marisa.

Sekarang udah bulan April, mereka belum bertemu Abo'. Aku pun sejak Idul Adha 2016 belum pulang Kotamobagu.... dan.... timbullah keinginan untuk liburan dulu, diriku berasa kurang piknik banget, sibuk melulu dengan rutinitas kantor, ngurus suami dan ngurus anak...

OK sip.. bulatkan niat mau liburan, mumpung Jumat minggu ini ada tanggal merahnya. Lumayan bisa sampai 3 hari di Kampung.

Suamiku pun setuju-setuju aja dengan rencanaku. Bismillah... Smoga liburan kali ini menyenangkan. Aku pun segera menyiapkan segala perlengkapan pulang kampung, mulai dari pakaian hingga perlengkapan anak batita selama di perjalanan.

Hari ini aku udah minta izin ke pimpinan untuk belum masuk kerja selama 2 hari, Besok dan Hari Senin 17 April nanti. hehe..

Kami sepakat besok berangkat Kotamobagu. Senangnya bisa pulang kampung lagi... Hmmm tapi membayangkan rute dan lamanya perjalanan ke Kotamobagu rasanya seperti telerrrrr deh.. 12 hingga 14 jam melalui jalur darat.

Liputan liburannya nanti aku catat ya?
Met istirahat sobat diary....



Kamar 18
Citra Mandiri Kos
22.15 WITA


10 Tips Cari Rumah Kos Untuk Pasutri Yang Punya Anak Bayi



Nasib anak dirantau, habis ngontrak, cari kontrakan baru lagi. Hari pertama di kos baru sungguh melelahkan. Gak ada cerita yang special. Selesai sudah acara pindahin barang ke kos yang baru. Sekarang tinggal beres-beres kamar kos, sekalian sempatin nulis diary, walaupun singkat mudah-mudah bermanfaat hehe. ..

Apalagi udah janji pengen berbagi tips cari kos untuk yang punya anak bayi. Selera orang mungkin beda, tapi kebutuhan kita sebagai orang tua yang punya anak kecil pasti sama.

Walaupun di Kota Marisa tempat kami bertugas banyak fasilitas rumah kos-kosan yang memadai, tapi kami tidak sembarang memilih kos, apalagi punya anak bayi. Beda dengan yang dulu masih berdua, dimanapun nginapnya OK-OK aja, asalkan berdua. hehe..

Sekarang memilih kos banyak pertimbangannya, harus ada inilah, harus memiliki itulah, disesuaikan dengan keadaan kita yang punya anak batita. Apa saja kriteria aku memilih kos-kosan dengan pertimbangan punya anak bayi?

  1. Lakukanlah perbandingan antara beberapa kos, hitung-hitung survey lokasi dan mencocokkan dengan selera, disesuaikan dengan jarak ke lokasi tempat kerja, kenyamanan, lingkungan sekitar yang aman untuk si kecil, penghuni kos lain, dan terakhir disesuaikan dengan isi kantong;
  2. Sebisa mungkin memilih kos-kosan yang ‘empunya’ kos tinggal juga di area kos;
  3. Kenali sekilas para penghuni lainnya yang tinggal didalam, bisa langsung tanya-tanya ke tuan kos atau lihat sekilas aktivitas mereka pada saat jam kerja. Kalo kebanyakan yang tinggal Mahasiswa, sebaiknya jangan tinggal dikos ini dengan membawa anak batita. Nanti istirahatnya terganggu dengan aktivitas mereka yang sering ngumpul, ngobrol-ngobrol, main gitar hingga larut malam, intinya hindari kebisingan dari penghuni kos lain;
  4. Masih seperti nomor 3, Lihat penghuni kos-kosan lain yang udah menikah (pasutri) dan memiliki anak balita atau batita, biar si kecil ada teman bermainnya. Atau minimal penghuni kos yang udah menikah aja walaupun belum punya anak, jangan sampai kos-kos yang kita tinggali banyak pasangan yang belum ‘halal’ ehhhhh....;
  5. Pilihlah kos-kosan yang dipagari tembok tinggi-tinggi sekelilingnya, biar aman dari pencuri. Trus yang dekat warung, toko sembako, tempat makan, pokoknya dekat dari keperluan kita sehari-hari;
  6. Jika kos-kosan dekat Jalan Raya atau jalan utama, usahakan mengambil kamar bagian belakang, biar anak kita gak terganggu dengan bisingnya kenderaan yang lalu lalang, trus biar anak kita gak main-main sampai ke jalan;
  7. Ehh iya.. halaman kos pun diperhitungkan, termasuk tempat parkir motor/mobil, tempat menjemur pakaian, minimal ada halaman dikit didepan kamar buat tempat bermain si kecil;
  8. Pilih kamar kos yang bersih, gak kumuh. Pastikan kamar mandi dan WC tersedia didalamnya dengan keadaan bersih. Ada dapurnya juga walaupun kecil asalkan bersih. Boleh juga dapur umum, tapi sering kalo dapur umum, peralatan memasak kita sering berpindah-pindah, bikin gak nyaman dengan tetangga kos;
  9. Punya gudang tempat penyimpanan barang-barang yang gak muat di Kamar Kos, ini nih paling penting, apalagi yang mau pindah dari rumah kontrakan ke kos-kosan kayak aku. Wahhh.. barang-barangnya pasti gak muat di dalam kamar. Terbayang gimana ribetnya kan? Peralatan si kecil yang gak dipakai lagi pun bisa disimpan disini ,nanti dipindahin lagi kalo udah dirumah sendiri hehe...
  10. Yang terakhir, pilihlah kos-kosan yang bentuknya petak-petak per kamar, bukan kamar dalam satu rumah. Akan sulit lho untuk mendapatkan sinar matahari pagi dan udara yang segar. Ruang kamar aja butuh dengan sinar matahari pagi biar segar, apalagi anak batita kita.

Beruntungnya aku dapat 1 kamar yang lumayan luas di kos ini, tarif per bulannya Rp.550.000 dan kami membayarnya Rp.700.000 (karena kena beban memasang Air Conditioner) dengan fasilitas Teras, kamar mandi/WC, dapur sendiri.

Kriteria dari 1 sampai 10 aku dapatkan di kos ini. Dan baru sehari tinggal di Kos, Azka sudah punya teman baru, seumuran dengan anakku, Namanya Key. Anak tetangga sebelah kamar kami.

Aku dan Suami berencana untuk stay disini sampai dengan Bulan Desember 2017 (Insya Allah), makanya kami gak nyari rumah kontrakan lagi dan lebih memilih tinggal di kos-kosan, karena gak sampai setahun lagi rumah yang kami bangun akan rampung. Doakan ya..?

Mau ngontrak rumah setahun lagi rasanya rugi, harganya bervariasi setahun ada yang Rp.15.000.000 dan Rp.12.000.000 untuk rumah tipe 36, trus gak dipakai sampai 1 tahun. Tinggal di kos-kosan, hanya Rp.700.000 per bulan, dihitung sampai bulan desember hanya Rp.6.300.000. Lumayan hemat dikantong hehe...
Buat Rumah Kontrakan yang lama, Terima kasih banyak.. Disinilah tempat kita bernaung dari panas dan hujan selama tiga tahun lamanya.. Dan Allah menguji kita dengan berbagai masalah yang datang silih berganti, tapi Alhamdulilah kita bisa kuat dengan semua hal itu sampai akhirnya Azka hadir di tengah-tengah kehidupan kami... Yahhh di rumah ini semuanya hadir membawakan cerita indah dengan hadirnya Azka.. Terima kasih yang tak terkira kuucapkan atas segala kebaikan dan Maafkanlah atas kekhilafan.. Semua pasti ada hikmahnya.. Aamiiinnn ya Robbal Alamin..

Ehhh.. Pasutri yang kerja di Kota Marisa Kabupaten Pohuwato dan mau nyari Kos-Kosan di Area Kota Marisa, silahkan ke KOS CITRA MANDIRI aja. Nih alamatnya...



Jalan Aloei Saboe, Desa Marisa Utara, Kompleks Simpang Empat Menuju SLB Negeri Pohuwato, Kecamatan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, 96266

Edisi Pindah Kost Lagi...



Hari ini, aku dan suamiku luar biasa sibuknya. Walau hari minggu dan kantor lagi liburan, tapi kita sibuk mencari tempat yang baru dan kemas-kemas barang.

Lahh.. Pindah kontrakan lagi??

Iya... ini ketiga kalinya kami pindah tempat tinggal. Nasib anak perantauan, jauh dari kampung halaman demi sesuap nasi bungkus.. hehe...

Ya, kami putuskan lagi untuk pindah dari kontrakan lama. Keputusan kami sudah bulat karena ada hal-hal yang sifatnya “terbatas” yang tidak bisa aku umbar di diaryku, yang mengharuskan kami memutuskan untuk menjadi anak kost lagi.

Terkadang keputusan yang kami ambil ini rasanya sangat berat, mengingat anak  kami yang masih berusia 13 bulan dan akan beradaptasi lagi dengan tempat yang baru. Tapi mau gimana lagi,  mau tidak mau, keputusannya harus Pindah Kontrakan. Nuraniku yang tak mau menerima lagi untuk tinggal di tempat yang lama.

Momentnya pun bertepatan dengan penyelesaian rumah kami di Kawasan Perum Delima yang belum selesai dikerjakan. Mau kontrak selama 1 tahun lagi, kayaknya gak mungkin karena deadline waktu yang kami berikan kepada developer perumahan untuk penyelesaian rumah hanya sampai bulan Desember 2017. Insya Allah semuanya lancar. Doakan ya?

Beruntung ada sepupu suamiku yang mau bantu ngangkut barang-barang kami ke kost baru. Namanya Joynoor. Dengan mobilnya, kami bisa mengangkut barang ke tempat baru dengan sukses hehe...

Ehh iya... hari ini juga Azka digundulin lagi rambutnya. Udah 2 kali dibotakin. Hehe... Sayangnya gak bisa aku abadikan fotonya, karena handphoneku lupa dibawa. Niat untuk mencari kost baru nyasar hingga sempat singgah ke Salon Gunting Rambut.

Selesai beres-beres kost dari jam 23.00 hingga 02.15 dinihari, ditemani hujan deras, di kamar kost yang baru aku simpan memori ini di diaryku. Disampingku terlelap dua pangeran hatiku, suami dan anakku yang selalu ada menemaniku disaat suka dan duka.

Hoayeeemmm.. waktu sekarang menunjukkan pukul 03.00 WITA. Capeknya luar biasa, aku mau istirahat ya? Ketemu besok lagi... Aku mau berbagi cerita tentang Cara Memilih Kost Yang Baik Untuk Yang Punya Anak Bayi... hahaha...

Informasi Yang Gak Penting... Tapi Wajib Dibaca!



Selamat Malam Pemirsaaahhh...

Bingung mau nulis apa, mumpung belum mengantuk dan baby Azka udah bobo manis, aku sempatkan nulis diary ini tentang informasi yang gak penting,  tapi WAJIB dibaca biar gak bingung... hehe...

Walau hanya sedikit semoga bisa menjawab tanda tanya di benak teman-teman. Ehh info ini khusus untuk teman-teman blogger, lebih khusus lagi buat follower aku di blog dan googleplus ya.. Emang kenapa..??

Gini teman-teman...
Sejak mengganti templateku yang pertama, semangat ngeblogku anjlok.. jadi ogah nulis. Trus program kehamilan yang aku jalani selama hampir 3 tahun juga membuatku harus menyampingkan kegiatan menulisku di blog... juga proses perpindahan tugasku ke daerah tempat suamiku bekerja juga sangat membutuhkan energi ekstra sehingga aktifitas di diary onlineku menjadi berkurang...

Untungnya semua catatan pendek perjalananku aku rekam lewat berbagai media, seperti facebook, twitter, foto-foto, video dan notes di android. Walau gak semua kenangannya terekam dengan lengkap tapi sebagian besar masih melekat semua dalam benakku, sehingga aku putuskan untuk menyalinnya lagi ke Diary ini... ya aku repost lagi walau telat banget :p

Infonya itu aja.. hehe.. trus nyambungnya info ini dengan teman-teman follower blogger dan google plus dimana? Nyambungnya disini... "Semua back up tulisan yang aku simpan aku akan posting sesuai dengan tanggal kejadiannya, sehingga bisa jadi ter up to date diberanda teman-teman follower sebagai tulisan terbaruku, padahal udah lama kan?"

Nah, melalui kesempatan ini, aku ingin mengklarifikasinya, bahwa tulisannya benar-benar baru dan diterbitkan sesuai dengan tanggal peristiwa, dari tahun 2015. Gitu aja

Salam buat keluarga kalian. semoga tetap diberikan rahmat dan kasih sayang yang luar biasa oleh-Nya. Amin...

Met bobo.. smoga mimpi indah...

Kalau Ada Masalah Dalam Rumah Tangga

Kalau ada masalah rumah tangga di

1 tahun pernikahan
2 tahun pernikahan
3 tahun pernikahan
4 tahun pernikahan
5 tahun pernikahan
Dan di tahun-tahun selanjutnya..
Entah karena faktor:
Ekonomi menurun
Belum punya momongan
Beda pendapat umum dengan suami
Mertua kayak mertua indosiar
Atau masalah lainnya...

Selama itu bukan....
KDRT atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Suami kelainan seksual
Suami selingkuh dan berzina
Suami bermalas-malasan tidak menafkahi

Dan masalah berat yang mungkin gak bisa kamu selesaikan sendirian, sedangkan kamu dan anak-anak berhak hidup tenang juga bahagia...

Maka,

Bersabarlah jika masalah yang kamu hadapi bukan masalah berat.

Karena, ujian sebenarnya dalam berumah tangga adalah saat usia pernikahanmu berada di fase jenuh yaitu 10 tahun keatas pernikahan.

Bukan lagi tentang ekonomi
Bukan lagi tentang mertua jahat
Bukan lagi tentang handuk basah di atas kasur
Bukan...

Tetapi, saat hatimu dan hatinya sama-sama jenuh di dalam ikatan sebuah pernikahan yang mengharuskan bertahan untuk sama-sama saling mencintai.

Maka,
Tetaplah bersabar di ujian pernikahan di usia muda ini..
Karena ini cara Alloh membuat hatimu dan hati suamimu saling terpaut, saling menyemangati, saling mencari solusi, saling bersabar membersamai, saling mendoakan kebaikan..

Dengan begitu, Saat usia pernikahanmu berada di fase terjenuh, Kamu akan ber-nostalgia bahwa, kalian pernah sama-sama melalui semua ujian demi ujian dengan bahagia, seberat dan sesulit apapun tetap bergandengan.

1 2 3 4 5 6 7 tahun pernikahan
Percayalah Allah sedang menempa kesabaranmu
Untuk ujian rumahtangga yang lebih besar di depan nanti.
Karena, ujian pernikahan yang sesungguhnya adalah mencintai orang yang sama selamanya sampai Surga-Nya..

InsyaAllah ❤️
(Teruntuk hati yang terluka)

“Pogogutat” Perdana



Pogogutat? Apaan tuh..? Pasti teman – teman smua pada bingung. Pogogutat merupakan adat istiadat yang ada di daerahku, Bolaang Mongondow Provinsi Sulawesi Utara. Atau gini aja…, biar gak bingung aku jelasin dulu apa itu “Pogogutat” dari arti bahasanya ya?
Komentar Sahabat
Sahabat Diary